Strategi tersebut memungkinkan Iran menciptakan lebih banyak sasaran sekaligus sehingga sistem pertahanan lawan harus bekerja pada kapasitas tinggi dalam waktu bersamaan.
Tekanan itu muncul setelah Pentagon sebelumnya mengklaim kemampuan rudal Iran telah mengalami pelemahan signifikan.
Pada April lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan program rudal Iran telah “hancur secara fungsional”, dengan jumlah peluncur dan rudal yang tersisa disebut sangat terbatas.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan Iran masih mampu mempertahankan kemampuan serangan jarak jauhnya sekaligus mengadaptasi metode penggunaannya.
Pengalaman Perang Sebelumnya Jadi Pelajaran
Vali Nasr, profesor di School of Advanced International Studies Universitas Johns Hopkins, mengatakan para pemimpin Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan.
Iran disebut mengambil pelajaran dari perang 12 hari pada Juni 2025, ketika Teheran mengamati betapa cepat Amerika Serikat dan Israel menggunakan rudal pencegat untuk menghadapi serangan Iran.
Persoalan tersebut kini menjadi semakin strategis bagi Washington. Berkurangnya persediaan sistem pertahanan udara secara terbuka berpotensi memberikan keuntungan psikologis dan strategis bagi negara-negara yang menjadi pesaing AS.










