Tanjung Bongo dan Pemberdayaan Pariwisata

oleh -28 views
Link Banner

Oleh: Ahmad Ibrahim, Wartawan Senior

SELAIN berziarah ke makam keluarga, saya juga memanfaatkan waktu mengelilingi beberapa objek wisata. Yakni di ujung pantai di Tanjung Bongo maupun di Danau Galela di kaki Gunung Tarakani, nun di utara Pulau Halmahera, tiga pekan lalu, itu.

Inilah danau yang pada April 2016 lalu, pernah didatangi Presiden Joko Widodo itu. Di tepi danau ini Presiden sempat menikmati ikan bakar mujair itu.

Hanya selang setahun, Galela seolah menjadi “magnet”. Dua orang penting pernah menginjakkan kakinya di ujung utara Provinsi Maluku Utara, itu.

Selain Presiden Joko Widodo juga mantan Menko Perekonomian yang kerab mengeluarkan kata “kepret” itu juga pernah mampir di kampung saya ini. Siapa lagi kalau bukan Pak Rizal Ramli.

Kalau kedatangan Pak Joko Widodo dalam rangka pengresmian Tol Laut Pelabuhan Samudera Galela, maka Pak Rizal Ramli dalam rangka menghadiri pembukaan Festival Tanjung Bongo (FTB).

FTB adalah kegiatan yang dilakukan atas swadaya masyarakat untuk mempromosikan pesona wisata laut yang berada di bibir Pasifik itu.

Saat itu Pak Rizal Ramli sempat dikalungi bunga ketika tiba di Galela tiga tahun lalu. Tepatnya 4 Desember 2017.

Baca Juga  Ambon Water Front City Nasibmu Kini

Sebelum menikmati suasana alam dengan mengelilingi Tanjung Bongo di gedung pertemuan itu Pak Rizal Ramli lebih dulu memberikan sambutan dan dialog di hadapan warga. Rizal Ramli berharap kedepan sektor pariwisata terus dikembangkan selain sektor pertanian.

Kata Pak Rizal Ramli, kita harus bermimpi dan jangan takut gagal. Sudah saatnya masyarakat menguatkan tekad mendorong daerahnya menjadi lebih baik.

Keterlibatan dan partisipasi masyarakat baik individu maupun kelompok dalam pengelolaan sumberdaya alam yang begitu melimpah patut dikedepankan.

Tanjung Bongo pernah menjadi populer dan kerab disebut-sebut sebagai Raja Ampat-nya Maluku Utara. Karena suasana alam, laut, batu-batu cadas “muntahan” Gunung Berapi Dukono dan batu karangnya sangat eksotik.

Kebanggaan itu tentu harus diikuti oleh pemeliharaan fasilitas wisata yang maksimal. Dinas Pariwisata di Kabupaten Halmahera Utara dan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara selain menggalang promosi juga tak kalah penting perlu membantu melakukan pembenahan infrastruktur. Sebab boleh jadi jika hal ini tidak dijaga dan dipelihara dengan baik bukan tidak mungkin akan tinggal kenangan.

Baca Juga  Amatoo!!! Karadeniz Powership Yasin Bey

Fasilitas jembatan penghubung di atas bebatuan yang terbuat dari kayu yang kini sudah mulai lapuk tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan rusak. Dan, untuk memperbaiki tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Tak kalah jauh juga objek wisata Tanjung Duma di Danau Galela. Keberadaannya justeru sudah tidak terurus. Letaknya di pinggir danau mestinya tampak cantik. Sayang, di depan danau sepanjang mata memandang sudah banyak ditumbuhi ecek gondok.

Panorama alam di kaki Gunung Tarakani yang membentang di sepanjang danau yang dulu sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah menjadikannya tempat peristrahatan saat memanggul ikan terbang yang dalam bahasa Latin disebut dengan Exocoetidae untuk dijual di sepanjang kampung nun di pedalaman itu.

Ikan-ikan itu hasil tangkapan ayah saya malam hari dengan jaring. Sayang keindahan danau kini tidak lagi menarik.

Bagaimana dengan Pelabuhan Samudera yang bersebelahan dengan Tanjung Bongo itu? Idom ditto. Sama saja.

Sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi setelah setahun tidak berfungsi. Barulah belakangan pelabuhan ini aktif.

Baca Juga  Lana Del Rey Rilis Album 'Musikalisasi Puisi' Karya Pribadi

Itu pun jauh dari harapan karena namanya pelabuhan samudera tapi jauh dari aktivitas pelabuhan pada umumnya. Sebulan hanya dua kali aktivitas bongkar-muat di pelabuhan yang memilih jargon Tol Laut melalui konsep Nawacita itu.

Di samping Pelabuhan Samudera itu, juga terdapat dermaga konglomerat Eka Tjipta Wijaya. Inilah pelabuhan yang 23 tahun lalu pernah menjadi pelabuhan ekspor pisang Calvandis terbesar nomor dua setelah Mindanao di Filipina.

Konsep Tol Laut untuk menghubungkan Nusantara melalui kapal laut tidak “hidup”. Sebulan hanya dua kali kapal Tol Laut yang menyinggahi pelabuhan ini mengangkut beberapa jenis komoditi. Dilihat dari nama dan gagasan, keberadaan Pelabuhan Samudera tidak seimbang dengan fungsinya.

Namanya Pelabuhan Samudera tapi sepi dari hiruk-pikuk pelabuhan. Tak ada aktivitas bongkar muat yang menonjol, sepinya manusia, dan sepinya kapal motor yang lalulalang.

Keberpihakan pemerintah menggerakkan sektor ekonomi di Pelabuhan Samudera Galela tentu sangat diharapkan. Ini juga menjadi bagian penting untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.