Burnout dan FOMO Mengintai Warga Kota
Dari sisi psikologis, tata ruang juga berkaitan erat dengan kesehatan mental masyarakat. Psikolog RSKD Maluku, Vebry Elizanet Wattimena, mengungkapkan masyarakat perkotaan kini menghadapi tekanan baru akibat perubahan gaya hidup.
Mobilitas tinggi, perkembangan teknologi digital, hingga budaya konsumtif disebut memicu persoalan seperti burnout, FOMO (fear of missing out), dan kesepian.
“Penanganannya harus dimulai dengan memperkuat relasi sosial, melakukan relaksasi, membangun self-talk yang positif, dan jika berlanjut, sebaiknya berkonsultasi dengan psikiater,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan ruang publik yang sehat dan inklusif menjadi kunci dalam membangun interaksi sosial yang positif sekaligus menjaga kesehatan mental masyarakat.
Ruang Publik dan Solidaritas Sosial
Sosiolog UIN Ambon, M. Asrul Pattimahu, menilai ruang publik memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas masyarakat perkotaan.
Mengacu pada teori Emile Durkheim, ia menjelaskan masyarakat modern idealnya tumbuh dalam solidaritas organik yang menghargai keberagaman. Namun, semakin sempitnya ruang perjumpaan sosial justru berpotensi melahirkan sikap eksklusif.
“Banyak generasi muda tumbuh di lingkungan akademik, tetapi belum tentu memiliki relasi lintas agama. Ini bisa menjadi bom waktu bagi kehidupan sosial,” ujarnya.










