Sebagaimana biasanya, untuk “memanipulasi” tren yang anjlok itu maka dimunculkan lagi secara massif hasil survey elektabilitas yang menempatkan paslon 02 di urutan pertama dengan jumlah prosentase yang “direkayasa”. Dan polanya selalu seperti itu dan berulang. Selain itu dimunculkan juga video video yang direkayasa seolah olah mereka dizalimi, mereka melakukan “playing victim” secara massif.
Tren negatif yang menyebabkan penurunan elektabilitas inilah yang membuat kubu 02 dan istana merasa gusar, sehingga harus melakukan apapun demi menjaga ambisi satu putaran. Kegusaran itu konon kabarnya menyebabkan “kemarahan” Jokowi yang pada akhirnya terpaksa harus merubah haluannya. Jokowi memainkan taktik menyerang dan merangkul. Sebuah taktif beratahan aktif, satu sisi pasukan lain melakukan gerakan bertahan menutupi kelemahan kelemahan yang ditampilkan Gibran, disisi yang lain disinyalir mulai ada gerakan melakukan penetrasi kelapangan untuk memaksakan kemenagan paslon 02. Bahkan informasi liar berkembang bahwa paska debat cawapres tersebut mulai dilakukan upaya uapaya penekaanan oleh aparat untuk memaksakan pemenangan paslon dukungan istana. Kini berkembang juga isu bahwa istana mulai memobilisir kemenanagan 02 melalui aparat dan lembaga kepresidenan.









