Trilema Prabowo

oleh -186 views

Secara normatif, pemberian amnesti dan abolisi pada Hasto dan Tom telah “mencoreng” muka, kalau bukan memenggal, Jokowi, yang dianggap berada dibalik konspirasi persekusi hukum ini. Prabowo ingin menunjukkan independensi, menampik kesan presiden “boneka”, dan ingin menjauh dari bayang-bayang Jokowi.

Namun, sejarah mencatat, Jokowi membantu menjadikan Prabowo presiden. “Utang budi politik” itu ada di pundak Prabowo. Membuatnya harus selalu menjaga kesan (setidaknya di permukaan) -bahwa relasinya dengan Jokowi tetap baik. Adegan berulang lapor-menghadap Jokowi, memuji-muji Jokowi, dan meneriakkan “hidup Jokowi”. Semoga cuma skenario partitur politik yang dimainkan untuk memberi kesan masih berkomplot. Ini trilema ketiga, berkomplot dengan Jokowi.

Lazimnya, saat menghadapi dilema, orang harus bisa memilih salah satu opsi yang terbaik. Trilema juga harus memilih, setidaknya dua dari tiga pilihan. Prabowo harus memilih dua opsi antara: menegakkan hukum, cerdik berpolitik, atau berkomplot dengan Jokowi.

  1. Jika cerdik berpolitik dan tetap berkomplot dengan Jokowi, maka Prabowo mustahil menegakkan hukum.
  2. Jika menegakkan hukum, tapi terus berkomplot denganJokowi, mustahil cerdik berpolitik.
  3. Jika cerdik berpolitik dan menegakkan hukum, maka mustahil berkomplot dengan Jokowi.
Baca Juga  Kepala Inspektorat SBB Klarifikasi Temuan BBM Kendaraan Dinas, Ini Data BPK!

Menghentikan berkomplot dengan Jokowi adalah paling logis, jika ingin menegakkan hukum dan cerdik berpolitik. Terus berkomplot dengan Jokow (si raja cawe-cawe) adalah tipiikal boneka yang pasti tidak cerdik, selain mustahil bisa menegakkan hukum.

No More Posts Available.

No more pages to load.