Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Dalam setiap perayaan Hari Kartini, 21 April, mungkin kita sering kali hanya merayakan bayang-bayang. Kita mengingat sosok yang menulis surat-surat yang telah disunting, perempuan yang—sekian lama—hanya dipahami emansipasi gaya Barat. Namun, sejarah seringkali adalah kepingan cermin yang retak; ia sering menyembunyikan wajah aslinya di balik tirai narasi penguasa.
Di sinilah kita perlu menengok kembali, melampaui batas surat-surat kepada Stella Zihandelaar, menuju sebuah pertemuan takdir di pendopo Demak. Di sana, duduk seorang perempuan muda, RA Kartini, di hadapan seorang alim bersahaja, Kiai Sholeh Darat.
Jika Kartini adalah api, maka Sosrokartono, kakaknya yang tercerahkan dan santri kalong Kiai Soleh Darat di Semarang itu, mungkin angin yang meniupkan api itu ke tungku keilmuan.
Banyak yang alpa menyebut nama Sosrokartono, padahal melalui Sosro, Sang Kakak inilah yang sekolah di Europeesche Lagere School di Jepara, Kartini belajar bahasa asing kepadanya, mengenal tokoh-tokoh barat, lalu menulis surat, kemudian mengenal seorang Kiai yang alim, dan dari sini ia amat tersentuh batinnya, bukan sekadar basa-basi keningratan.









