Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis dan sastrawan nasional
Malam di Sofifi mestinya menjelma langit kecil yang memantulkan cahaya wahyu. Di pelataran Masjid Raya Shaful Khairaat, kita membayangkan ayat-ayat mengalun, naik perlahan seperti doa yang menemukan jalannya ke atas. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: kalam suci itu seolah ditahan di bawah, di ruang yang rendah, tertutup, dan kehilangan gema langitnya.
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Provinsi Maluku Utara, yang digelar Minggu malam (21/6/2026), bukan sekadar peristiwa seremonial yang luput dari kesempurnaan teknis. Ia adalah fragmen kecil dari cara kita memperlakukan yang sakral. Dan dalam fragmen itu, publik membaca sesuatu yang ganjil: sebuah syiar besar yang terasa diperkecil.
MTQ, pada hakikatnya, bukan perlombaan suara. Ia adalah perayaan makna. Tilawah bukan hanya soal nada yang merdu, tetapi tentang bagaimana setiap huruf menjadi denyut yang menghidupkan nurani. Ia adalah jalan sunyi yang dibuka di tengah keramaian, agar manusia kembali mendengar dirinya sendiri—dan Tuhannya.
Di situlah MTQ menemukan ruhnya: sebagai panggung dakwah yang tidak gaduh, tetapi menggema; tidak gemerlap, tetapi bercahaya.
Syiar adalah bahasa yang tidak selalu diucapkan. Ia hadir dalam pilihan, dalam sikap, dalam cara kita menempatkan sesuatu pada tempat yang layak. Ia adalah isyarat batin yang menjelma bentuk.








