Oleh: Muhammad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela
Ketika Nuku dinobatkan sebagai Raja atas Papua serta Seram Timur, kemudian sebagai Sultan Tidore, gagasan Saifuddin di atas bergema kembali. Seusai dinobatkan sebagai Sultan Tidore, Nuku menghidupkan kembali Kesultanan Jailolo dan mengangkat Sangaji Tahane sebagai Sultan Jailolo dengan gelar Muhammad Arif Billa. Alasan penghidupan kembali Kesultanan Jailolo sama dengan yang dikemukakan sebelumnya oleh Sultan Saifuddin kepada Gubernur Padtbrugge. Walaupun demikian, upaya Nuku ini tidak dapat dilepaskan dari gagasannya untuk mengimbangi hegemoni dan superioritas Ternate. Kesultanan Ternate memang dengan cerdik telah menunggangi Belanda guna mempertahankan hegemoni dan superioritasnya.
Sultan Jailolo yang diangkat Nuku, Muhammad Arif Billa, bukanlah pendatang baru dalam struktur Kesultanan Tidore. Di awal karirnya, Billa menjabat sebagai Sangaji Tahane (Makian), kemudian selama 13 tahun menjadi Jogugu Kesultanan Tidore, sejak berkuasanya Sultan Kamaluddin (1784-1797), kakak Nuku. Meski Billa adalah seorang Tahane atau Makian,tetapi lantaran jabatan yang dipangku ia mendapatkan kualifikasi bangsawan setingkat kaicil.
Sudah sejak 1786 Billa memimpin suatu faksi dalam lapisan para bobato Tidore yang memihak Nuku dalam pergolakan politik kesultanan tersebut.




