Aku, Kamu dan Senja Kala itu

oleh -18 Dilihat

Jika dipikir sekarang, tentunya aku merasa malu mengingat betapa aku mengaguminya dulu. Aku tidak tahu bagaimana mulanya, yang jelas dia sering menungguku sehabis bimbingan olimpiade setiap Selasa sore. Rumah aku dan dia searah, jadi kami terbiasa pulang bersama dengan menatap langit sore. Sebenarnya desa kami tidak terlalu kampung, namun tidak cukup besar untuk disebut sebuah kota, mungkin hanya desa kecil di pinggiran kota. Tentunya, banyak angkutan umum yang bisa kami naiki untuk sampai ke rumah, namun baik aku atau dia, sama-sama lebih menyukai berjalan kaki menyusuri trotoar.

Tak sulit bagi kami untuk menemukan topik obrolan, kami menyukai buku, film bahkan komik yang sama, sehingga obrolan kami tak pernah habis. Seringnya kami menikmati momen sampai tidak sadar bahwa rumahku sudah tepat di depan mata. Dia benar-benar teman mengobrol yang menyenangkan, apa mungkin karena itu lah aku menyukai dia?

Baca Juga  Ely Watimena Belum Ditemukan, Pencarian Diperluas hingga Teluk Elpaputih

Setiap kali menatap langit sore, terkadang aku terkenang dia, suaranya, tawanya bahkan candaannya. Saat itu benar-benar waktu yang indah untuk jatuh cinta, seperti dalam novel-novel picisan yang kadangkala aku baca. Namun semuanya berubah, saat kami sudah tidak lagi mengikuti olimpiade. Kami masih saling menyapa di sekolah, namun rasanya seperti ada yang aneh antar aku dan dia, seperti ada jarak yang sengaja dibuat untuk memisahkan kami. Tapi aku tak pernah ambil pusing, aku masih selalu menyapanya, setiap malam pasti aku selalu mengirimkan banyak video lucu ke dm instagram pribadinya. Awalnya, dia sering menanggapi dan bersikap ramah seperti biasa, tetapi lama kelamaan dia tak pernah membalas, tak pernah menjawab ketika aku sapa. Mungkinkah dia merasa risih saat itu? Apa mungkin perasaanku begitu terlihat jelas sampai dia mengabaikanku?

No More Posts Available.

No more pages to load.