“Mereka menyerang petani, merusak tanaman, dan mencegah warga mengakses lahan mereka,” ujar Al-Ghafri kepada AFP, menjelaskan latar belakang pawai yang digelar hari Jumat.
Pemukim yang terlibat dalam bentrokan tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.
Dalam beberapa waktu terakhir, otoritas Israel juga memasang pagar tinggi yang memisahkan sebagian wilayah Sinjil dari Jalan 60, jalur utama yang membentang dari utara ke selatan Tepi Barat dan digunakan oleh warga Palestina serta pemukim Israel.
Mohammad Asfour (52), warga setempat, mengeluhkan bahwa pagar tersebut telah mengisolasi komunitasnya, serupa dengan kondisi sejumlah kota Palestina lainnya yang kini dilengkapi gerbang dan kontrol akses.
Baca Juga: Menteri Negara Arab Kecam Israel atas Larangan ke Tepi Barat“
Sinjil sangat menderita karena tembok ini. Rumah saya dan saudara-saudara saya berada dekat dengan pagar. Pemukim bebas keluar masuk ke Sinjil, tapi putra-putra Sinjil tidak diperbolehkan naik ke bukit itu,” tutur Asfour.
Kekerasan di Tepi Barat meningkat sejak serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 yang memicu konflik bersenjata di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 947 warga Palestina, termasuk sejumlah militan, tewas akibat tindakan militer dan serangan pemukim Israel sejak saat itu.









