Tenaga Lokal Harus Jadi Pemain Utama
Bambang membandingkan potensi Blok Masela dengan proyek Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, yang menjadi salah satu penghasil gas bumi terbesar di Indonesia dan menargetkan pelibatan tenaga kerja lokal hingga 85 persen pada 2029.
“Pasti bisa nanti dengan pelatihan. Tenaga kerja kita akan terserap di sana. Saya optimis untuk itu. Ini adalah proyek yang benar-benar hebat; sudah lama kita tidak punya proyek gas yang cukup hebat setelah Tangguh,” ujarnya.
Selain membuka lapangan kerja, Bambang mengapresiasi skema pengelolaan gas Blok Masela yang menurutnya memberikan ruang bagi pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Ia menyebut sekitar 40 persen produksi gas Blok Masela akan diarahkan untuk kebutuhan domestik sebagaimana tercantum dalam Plan of Development (POD).
“Di dalam POD clear bahwa 40 persen produksi dari Masela ini akan dijadikan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri,” katanya.
Komisi XII DPR RI, lanjut Bambang, akan mengawasi pelaksanaan proyek melalui SKK Migas, terutama terkait kesesuaian antara pelaksanaan proyek dan rencana kerja yang telah ditetapkan.
“Nanti kita minta kepada SKK breakdown-nya, work program and budget-nya kita mintakan. Pengawasannya lewat itu,” tuturnya.










