Blokade yang Datang Terlambat

oleh -81 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Di sebuah ruangan tertutup di Islamabad, Pakistan, diplomasi global mendadak berubah menjadi arena hampir adu jotos. Bukan metafora. Ini nyaris literal.

Selama 21 jam, dua kubu duduk, berdiri, berjalan, lalu duduk lagi, membawa peta, angka, dan ego. Sampai akhirnya, semua runtuh dalam satu kalimat ancaman.

Ketika utusan Amerika menyampaikan tuntutan “tekanan maksimum” atas nama Donald Trump — pelucutan total nuklir Iran — ruangan itu kehilangan oksigen rasionalitasnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berdiri. Suaranya meninggi. Kata-katanya bukan lagi diplomasi, melainkan peringatan. “Jangan ancam bangsa Iran.” Itu bukan retorika. Itu garis merah.

Lalu, seperti dalam film yang terlalu dramatis untuk dipercaya, aparat keamanan Pakistan harus turun tangan. Bukan untuk mengamankan dokumen. Tapi untuk mencegah dua pejabat tinggi dunia saling adu jotos dalam arti yang paling buruk.

Baca Juga  Viral! Ini Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual Verbal Mahasiswa FH UI

Pertemuan berakhir. Tidak ada komunike bersama. Tidak ada senyum basa-basi. Yang ada hanya satu hal: kegagalan total.

Dari sinilah cerita bergerak, meluncur, dan — seperti biasa dalam geopolitik — meluncur ke arah yang lebih berbahaya.

Beberapa jam kemudian, laporan sampai ke Washington. Donald Trump, yang sejak lama memandang Iran sebagai teka-teki yang harus dihancurkan, mengambil keputusan yang terdengar seperti kombinasi antara strategi militer dan perjudian putus asa: “blokade total Selat Hormuz.”

No More Posts Available.

No more pages to load.