Tidak cukup sampai situ, Ibnu Rusyd mendalami banyak disiplin ilmu lainnya, seperti kedokteran, hukum, matematika-tasawuf, filsafat, fisika, astronomi, logika, dan ilmu pengobatan. Melansir dari tulisan Afrizal M, sejak kecil, ia sudah mendalami filsafat dari Ibnu Thufayl dan untuk ilmu kedokteran didapatnya dari Ja’far bin Harun dan Abu Marwan bin Jarbun.
Bersama Ibnu Thufayl, sang ilmuwan dari Cordoba ini dibawa untuk menemui Sultan Abu Ya’qub Yusuf pada tahun 1169 M. Demi memajukan wilayah kekuasaannya, sultan tersebut meminta bantuan Ibnu Rusyd sebagai ahli filsafat untuk menyunting hingga memberi ulasan pada karya-karya Aristoteles.
Keberhasilannya dalam mengerjakan tugas intelektual inilah yang membuat nama Ibnu Rusyd lebih terkenal di kalangan bangsa Eropa dibandingkan dengan masyarakat muslim bangsa Timur.
Lebih lanjut, kecerdasan Ibnu Rusyd dalam bidang ilmu pengetahuan terlihat pada praktiknya sehari-hari. Melansir dari detikNews, ia bergelut dengan dunia kedokteran dan ilmu kimia-biologi di pagi harinya, sedangkan malamnya, Ibnu Rusyd memberi bantuan hukum dan menjadi seorang filsafat.
Buku-buku yang ditulis oleh Ibnu Rusyd di antaranya, Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (buku tentang fiqh), Fashl Al-Maqal fi ma bayn Al-Aqidah wa Al-Syari’ah min Al-Ittishal (buku tentang hubungan antara filsafat dan agama), Al-Kasyf’an Manahij Al-Adillah fi ‘Aqa’id Al-Millah (buku tentang persoalan-persoalan kalam), dan Tahafut Al-Tahafut (buku yang paling terkenal tentang kritik terhadap buku karya Imam Al-Ghazali).





