Jokowi sendiri, yang masih menjadi presiden hingga Oktober nanti, entar berguaru atau serius mengatakan bila perlu anggota Presidential Club ini bertemu dua hari sekali. Tentu saya nyengir mendengar ini. Karena Megawati dan SBY selama dua puluh tahun saja nggak pernah ketemu dan bicara, kecuali saat undangan. Itu pun hanya salaman basa basi.
Saya juga membaca bahwa ide presidential club ini diambil dari Amerika Serikat. Untuk saya, yang belajar serius tentang sistem politik dan pemerintahan Amerika, klaim seperti ini tentu aneh, kalau tidak kebangetan ‘ignoramus’-nya. Pra mantan presiden Amerika — kecuali Trump — tidak akan bikin gaduh. Kalau pensiun, ya pensiun. Urus perpustakaan kepresidenan atau membantu partainya untuk mencari dana-dana kampanye.
Sistem dua partai di Amerika membuat adanya dua pandangan atau visi politik yang berbeda. Keduanya merupakan satu alternatif dari yang lain. Dua partai dengan dua ideologi — liberal dan konservatif — menawarkan pandangan yang sangat berbeda untuk menghadapi masalah bangsanya. Sehingga seorang mantan presiden dari Demokrat pun tidak mungkin memberi saran kepada presdien Republikan. Mereka punya resep tersendiri dalam menyelesaikan masalah bangsanya.









