Daniel kemudian menjadi redaktur Prisma. Hingga satu saat dia mendapat undangan untuk belajar ke universitas Cornell. Ketika datang ke Cornell pertama kali, kesannya adalah hijau sekali. Iya, karena dia datang saat musim panas, saat dimana kampus Cornell sedang indah-indahnya.
Daniel berhasil menyelesaikan studinya di Cornell dengan baik. Dia menulis disertasi tentang perjalanan pers Indonesia menjadi sebuah industri. Pembimbingnya, Ben Anderson, merayunya untuk menerbitkan disertasi itu. Kabarnya Cornell University Press sudah bersedia untuk itu. Namun entah mengapa disertasi itu tidak pernah terbit sekalipun di Indonesia dia beredar luas dalam bentuk fotokopian.
Tidak perlu dibantah bahwa Daniel adalah orang pemikir. Dia senang berpikir dalam-dalam. Dia membaca banyak filsafat. Itu memudahkannya ketika masuk ke dalam ilmu-ilmu sosial. Warna filsafat, dengan jejak seminarian, sangat kental mewarnai caranya berpikir. Saya pernah berpikir bahwa Daniel agak beruntung masuk ke Department of Government pada tahun 1980an ketika ilmu politik belum se-empirik sekarang. Ketika pikiran-pikiran spekulatif masih dihargai dan pembuktian masih agak longgar.
Untuk saya Daniel mewakili sebuah generasi intelektual Indonesia. Dia adalah generasi yang lahir sesudah kemerdekaan. Generasi itu adalah generasi peralihan. Jejak-jejak sistem pendidikan kolonial masih ada. Guru-guru masih dalam ‘cadaver discipline’ dalam menegakkan otoritasnya dalam kelas. Selain itu, Daniel juga besar dalam asuhan sistem pendidikan Gereja Katolik (seminari) yang memberikannya dasar dan berpikir filosofis.










