Karhutla terbaru dilaporkan terjadi di wilayah Desa Ewiri dan Desa Waemulang, Kecamatan Leksula, Kabupaten Buru Selatan.
Di Desa Ewiri, kebakaran disebut telah berlangsung sekitar sepekan dan meluas hingga ribuan hektare serta semakin mendekati permukiman warga.
Sementara di Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, kebakaran dilaporkan telah menghanguskan sedikitnya 100 hektare lahan masyarakat dan kawasan hutan hingga 24 Agustus 2026.
Bagi GMKI, rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak lagi tepat dipandang sebagai peristiwa sporadis yang muncul setiap musim kemarau.
Ancaman tersebut membutuhkan sistem pencegahan yang bekerja sebelum api muncul, mulai dari pemetaan wilayah rawan, deteksi dini, patroli, kesiapan personel dan peralatan, hingga mekanisme respons cepat.
Renno mengingatkan, kemarau panjang dan perubahan iklim bukanlah kondisi yang baru diketahui setelah kebakaran terjadi.
“Kemarau panjang dan perubahan iklim bukan sesuatu yang baru kita ketahui ketika kebakaran sudah terjadi. Kalau pemerintah sudah mengetahui risikonya, lalu mengapa kesiapsiagaan baru terlihat ketika api sudah membesar?” ujarnya.
Ia meminta pemerintah tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus waspada dan bertanggung jawab terhadap pencegahan kebakaran.






