Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung tanpa batas.
“Ketika kita mendekati dua tahun sejak pembebasan, kesabaran masyarakat akan habis,” kata Yassin-Kassab.
Menurutnya, protes saat ini menggambarkan masyarakat yang menghadapi krisis biaya hidup, sementara mereka masih menunggu pembangunan kembali infrastruktur dasar yang diperlukan untuk menjalani kehidupan normal.
Pemerintah juga menghadapi keterbatasan sumber daya. Pendapatan negara masih minim, sementara kebutuhan pembiayaan sangat besar untuk rekonstruksi dan penyediaan layanan dasar.
Abdullah menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan yang lebih transparan mengenai kebijakan kenaikan harga BBM serta mempertimbangkan subsidi atau bantuan bagi kelompok masyarakat yang paling terdampak.
“Masalahnya bukan kenaikan harga BBM itu sendiri, melainkan pemerintah tidak melakukan kajian sebelum menerapkan kenaikan harga. Tidak ada kajian atau strategi yang jelas,” ujarnya.
Tekanan tersebut bahkan mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Tarif taksi meningkat dan memicu perselisihan dengan penumpang.
Memasuki musim dingin, beban masyarakat diperkirakan semakin berat karena kebutuhan bahan bakar untuk pemanas rumah ikut meningkat. Banyak warga Suriah masih bergantung pada mazut, bahan bakar minyak berat yang digunakan untuk menghangatkan rumah.









