Padahal, hilirisasi kelapa di Halmahera Utara adalah contoh langka kepemimpinan lokal yang berani. Piet Babua telah menafsir ulang pembangunan bukan sebagai proyek pemerintah, tapi sebagai proses memandirikan rakyat. Ia membangun ekonomi partisipatif dari bawah — bukan dengan narasi megah, tapi dengan keputusan nyata.
Namun, seperti biasa, politik punya cara halus untuk menyingkirkan orang yang terlalu tulus bekerja.
Keadilan Pengakuan
Apresiasi Mentan tentu patut dihargai. Tapi kejujuran publik juga wajib ditegakkan: tak ada hilirisasi kelapa di Maluku Utara tanpa keberanian politik Piet Hein Babua.
Menepuk bahu gubernur tanpa menyebut bupati adalah bentuk ketidakadilan simbolik. Itu bukan sekadar soal nama, tapi soal keadilan pengakuan — sesuatu yang semakin langka di negeri ini.
Hilirisasi kelapa lahir dari para-para pengering kopra, bukan dari podium. Dari tangan-tangan petani yang menjemur kelapa di bawah terik, bukan dari pidato yang dibacakan di atas panggung berhias bunga.
Sejarah, pada akhirnya, akan menilai bukan siapa yang berdiri di podium, tapi siapa yang mempersiapkan podium itu dengan keringat dan keyakinan.
Dan dalam kisah ini, nama itu jelas: Piet Hein Babua. Pemimpin yang memilih berada di sisi rakyat, bukan di sorotan kamera.










