Ibnu Sina, Filsuf Besar yang Hafal Al-Qur’an pada Usia 10 Tahun

oleh -48 views
Ibnu Sina meninggal pada Juni 1037, pada usia 58 tahun setelah lama menderita sakit perut. Foto/Ilustrasi: Ist

Ilmuwan itu juga dipuji karena menemukan perangkat untuk memantau koordinat bintang dan untuk menentukan bahwa bintang itu bercahaya sendiri.

Filosofi Ibnu Sina?

Dalam filsafat, kontribusi utama Ibnu Sina adalah pengembangan bentuk logika Aristoteliannya sendiri dan penggunaan rasionalitas dan nalar untuk menetapkan keberadaan Tuhan.

Karya-karyanya tentang logika ditampilkan dalam sembilan buku yang merupakan bagian dari The Book of Healing, dan di dalamnya ia memperdebatkan kegunaan logika, dan menunjukkan kesalahan yang dirasakan dalam karya-karya sebelumnya tentang topik tersebut.

Dia menulis bahwa logika sangat penting dalam menentukan validitas argumen dan pengembangan pengetahuan, dan tujuan logika adalah untuk menegakkan kebenaran.

Sambil mengkritik pendahulunya Aristoteles Yunani, polymath Persia ini juga percaya bahwa manusia memiliki tiga jenis jiwa: jiwa vegetatif, hewan, dan rasional. Dua yang pertama mengikat manusia ke Bumi, dan jiwa rasional menghubungkan manusia dengan Tuhan.

Baca Juga  Penjabat Bupati Jasmono Sambut Kepulangan 81 Jemaah Haji Asal Maluku Tenggara

Tentang keberadaan Tuhan, Ibnu Sina menerbitkan Burhan al-Siddiqin (Bukti Kebenaran), di mana ia mengemukakan argumen untuk “keberadaan wajib” atau sesuatu yang tidak mungkin tidak ada.

Dia menjelaskan bahwa segala sesuatu di luar keberadaan wajib ini bergantung pada keberadaan sesuatu yang lain, yang merupakan penyebabnya. Jadi, misalnya, keberadaan seseorang bergantung pada keberadaan orang tuanya, yang keberadaannya pada gilirannya bergantung pada keberadaan orang tuanya, dan seterusnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.