Ibnu Sina, Filsuf Besar yang Hafal Al-Qur’an pada Usia 10 Tahun

oleh -370 views
Ibnu Sina meninggal pada Juni 1037, pada usia 58 tahun setelah lama menderita sakit perut. Foto/Ilustrasi: Ist

Ketika agregat dari semua hal kontingen yang ada dianggap, Ibnu Sina menetapkan bahwa jumlah tetap kontingen, karena di dalamnya membutuhkan penyebab non-kontingen di luar dirinya, yang ia identifikasikan sebagai Tuhan.

Alasan tersebut kemudian dikritik oleh Ibn Rusyd karena mengandalkan metafisika daripada hukum alam yang dapat dibuktikan.

Indera Manusia Menurut Ibnu Sina

Salah satu tujuan hidup Ibnu Sina adalah untuk secara akurat memahami indera manusia dan untuk menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal daripada yang dipahami oleh orang-orang sezamannya. Dia mengusulkan agar kita semua memiliki indera batin yang melengkapi indra luar kita yang diakui secara luas, seperti penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa dan sentuhan.

Seorang yang sangat percaya pada intuisi, Ibnu Sina percaya bahwa akal sehat adalah akal sehat dan mengaitkan beberapa fungsi jiwa dengan hal ini. Oleh karena itu, tindakan membentuk dan membuat penilaian dapat dipahami sebagai tindakan jiwa dalam pandangan dunianya.

Baca Juga  Kisah Abdullah bin Al-Mubarak: Tidak Berhaji namun Menerima Predikat Haji Mabrur

Imajinasi retentif adalah indra internal lain yang memungkinkan manusia untuk mengingat informasi yang mereka kumpulkan melalui akal sehat. Indera internal ini menyimpan bentuk benda-benda di dalam pikiran kita, memungkinkan orang merujuk informasi itu dan mengenali benda-benda di sekitar mereka.

No More Posts Available.

No more pages to load.