Mengenai optimisme kompetitor, Bito mengatakan, belum terlihat reasonibilitasnya. Menurutnya, kalau kelak pasangan yang diputuskan memiliki rekam jejak prestisius dan basis dukungan sosial yang luas, klaim peluang terhadap incumbent bisa saja sangat kompetitif. Di pihak lain, konsolidasi partai pengusung ternyata sama buruknya dengan partai pengusung incumbent.
Oleh karena itu, klaim-klaim yang dibuat saat ini, entah oleh petinggi partai Golkar atau belakangan PDI P, rasannya masih sangat sumir dan retoris belaka. Artinya klaim yang diajukan oleh elit kedua partai hanyalah reaksi spontan atas situasi yang berkembang saat ini.
“Saya sendiri berharap ada keberanian dan obsesi dari partai-partai lain untuk menawarkan pilihan baru yang jauh lebih segar dan prospektif untuk mengurai kebekuan politik kepemimpinan di Maluku. Akan sangat menarik sekali kalau partai seperti Gerindra atau PKS berani berbeda dengan yang lalu-lalu yaitu dengan menggalang koalisi baru dengan formula pasangan calon yang mengutamakan gagasan visioner mengenai Maluku baru yang lebih terhormat sehinggga meninggalkan kekusaman saat ini,” ungkap Bito.
“Atau boleh jadi elemen-elemen civil society menggagas koalisi rakyat yang mengusung satu pasangan independent yang benar-benar prima rekam jejak dan segar gagasan visioner. Yang terakhir ini penting sekali karena kegagalan partai-partai membina kader pemimpin hingga saat ini akhirnya menjadikan partai-partai sekadar sebagai “perahu tumpangan” belaka yang telah ternyata menimbulkan politik mahar yang begitu mahal. Politik mahar-maharan ini yang akhirnya menjadi kerangkeng kepemimpinan bagi mereka yang terpilih sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah,” pungkasnya. (keket)




