Ini Peta Politik Pilkada Maluku 2024 Menurut Bito Temmar

oleh -2.337 views
Link Banner

Porostimur.com – Ambon: Di Maluku dalam era reformasi, kontestasi pilgub selalu menghadap-hadapkan cagub usungan dua partai, Partai Golkar vs PDI Perjuangan. Kontestasi ini memantik perhatian politisi senior Bito Silvester Temmar.

Kepada porostimur.com, Rabu (29/9/2021), Temmar membeberkan data bahwa, dalam empat kali kontestasi terakhir, ternyata PDI Perjuangan memenangi tiga kali kontestasi sedangkan sekali oleh Partai Golkar. Tiga kali kemenangan PDI Perjuangan masing-masing Pak Ralahalu dua kali dan Pak Murad Ismail sekali. Sedangkan Partai Golkar sekali yaitu Pak Assagaf.

“Jadi kalau nanti di 2024, Golkar ingin memenangi pilgub mengalahkan incumbent dari PDI Perjuangan, saya rasa wajar. Atau sebaliknya incumbent meraih kembali periode kedua,” katanya.

Bito mengatakan, Pilgub Maluku 2024 baru menjadi menarik jika ada usungan cagub dari partai-partai lain semisal koalisi partai Gerindra atau PKS, dan seterusnya.

Mantan Bupati Maluku Tenggara Barat (sekarang Kabupaten Kepulauan Tanimbar)dua periode ini memprediksi, kemungkinan ada koalisi baru, karena baik Partai Golkar mau pun PDI Perjuangan juga akan membangun koalisi sebab kedua partai tersebut tidak dapat mengusung paslon sendiri l, karena tidak memenuhi persyaratan. Dua partai itu wajib menggandeng partai lain agar memenuhi persyaratan.

Baca Juga  Bisa Banget Kamu Coba, Ini Gaya Hijab Favorit Pria

“Akankah ada koalisi baru yang mengusung pasangan cagub sehingga salah satu dari kedua partai tadi, Golkar atau PDI Perjuangan urung mencalonkan dan hanya menjadi pendukung, kita baru memastikannya pada tahun-tahun yang akan datang. Yang bisa dikatakan adalah bahwa baik Golkar mau pun PDI Perjuangan berpeluang besar menarik partai lain sebagai mitra koalisi untuk mengusung calonnya. Di luar dua partai ini, belum ada jejak sebelumnya,” ujar Bito Temmar.

“Sekiranya akhirnya hanya dua pasangan calon, peluang menang saya pikir sangat probable. Artinya bisa incumbent, bisa pula penantang atau kompetitor. Mengapa demikian?. Pertama, soal peluang incumbent. Hingga tahun ketiga, belum ada raihan kinerja yang tampak menonjol. Artinya, jika dua tahun tersisa tidak diefektifkan untuk memenuhi janji-janji politik yang pernah disampaikan pada pilkada yang lalu, rasanya ekspektasi dukungan berbanding seimbang dengan calon kompetitor. Di pihak lain, variabel konsolidasi partai ternyata sama rapuhnya dengan partai-partai pada umumnya. Sebagai demikian kontribusinya akan sangat terbatas,” sambungnya.

Baca Juga  Rasio Utang Meningkat, Bank Dunia Waspadai Ancaman Krisis Global

Kalau pun ada klaim bahwa peluang incumbent jauh lebih besar dari kompetitor, tentu ini akan bergantung pada intervening variable yang belum dapat diukur saat ini. Dengan tegas bisa dikatakan bahwa kalau performa pemerintahan incumbent biasa-biasa saja dan konsolidasi partai pengusung buruk seperti saat ini, tetapi masih optimis menang, berarti kemenangan itu bisa saja melibatkan invisible hand yang sulit dieksplanasi.

Mengenai optimisme kompetitor, Bito mengatakan, belum terlihat reasonibilitasnya. Menurutnya, kalau kelak pasangan yang diputuskan memiliki rekam jejak prestisius dan basis dukungan sosial yang luas, klaim peluang terhadap incumbent bisa saja sangat kompetitif. Di pihak lain, konsolidasi partai pengusung ternyata sama buruknya dengan partai pengusung incumbent.

Oleh karena itu, klaim-klaim yang dibuat saat ini, entah oleh petinggi partai Golkar atau belakangan PDI P, rasannya masih sangat sumir dan retoris belaka. Artinya klaim yang diajukan oleh elit kedua partai hanyalah reaksi spontan atas situasi yang berkembang saat ini.

Baca Juga  Ini 5 Provinsi dengan Kasus Corona Terbanyak di Indonesia Sampai Jumat Kemarin

“Saya sendiri berharap ada keberanian dan obsesi dari partai-partai lain untuk menawarkan pilihan baru yang jauh lebih segar dan prospektif untuk mengurai kebekuan politik kepemimpinan di Maluku. Akan sangat menarik sekali kalau partai seperti Gerindra atau PKS berani berbeda dengan yang lalu-lalu yaitu dengan menggalang koalisi baru dengan formula pasangan calon yang mengutamakan gagasan visioner mengenai Maluku baru yang lebih terhormat sehinggga meninggalkan kekusaman saat ini,” ungkap Bito.

“Atau boleh jadi elemen-elemen civil society menggagas koalisi rakyat yang mengusung satu pasangan independent yang benar-benar prima rekam jejak dan segar gagasan visioner. Yang terakhir ini penting sekali karena kegagalan partai-partai membina kader pemimpin hingga saat ini akhirnya menjadikan partai-partai sekadar sebagai “perahu tumpangan” belaka yang telah ternyata menimbulkan politik mahar yang begitu mahal. Politik mahar-maharan ini yang akhirnya menjadi kerangkeng kepemimpinan bagi mereka yang terpilih sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah,” pungkasnya. (keket)

No More Posts Available.

No more pages to load.