Kalamata

oleh -66 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Utusan itu mendatangi istana Somba Opu. Di hadapan Sultan Hasanuddin dan petinggi kerajaan, utusan itu – Dirckh Schouten – meminta Gowa menyerahkan Pangeran Kalamata. Orang yang menurut Balanda bertanggungjawab atas penyerangan terhadap kapal mereka di perairan Buton. Belanda sangat rugi dan mengincar Kalamata. Hasanuddin tegas menolak permintaan itu. Gowa malah balik menekan Belanda dan meminta mereka membayar kerugian atas perampasan sebuah kapal berbendera Portugis, St, Joan Bapthista, yang di dalamnya terdapat saham kerajaan. Situasi di balairung memanas. Kedua pihak bersikeras dan pada akhirnya kebuntuan menjemput.

Kisruh ini bermula sekitar April 1655, Sultan Hasanuddin memimpin armada Gowa menyerang Buton. Dampak serangan itu sungguh dahsyat. Buton yang merupakan wilayah Kesultanan Ternate dan berafliasi dengan Belanda luluh lantak. Sultan Mandarsyah sempat meminta bantuan Belanda. Ia juga mengirim Kaicil Saidi untuk mempertahankan Buton. Namun upaya itu tak berhasil. Buton lepas. Belanda rugi besar. Laksamana de Vlammingh yang dikirim beberapa saat setelah penyerangan itu hanya menemukan reruntuhan kerajaan Buton. Karenanya, Belanda mulai berhitung, harus ada perjanjian damai dengan Gowa.

23 Oktober di tahun yang sama, Belanda mengutus Willem van Der Beek bersama Khoja Suleman – seorang Armenia yang jago berdiplomasi – untuk berunding dengan Hasanuddin. Beberapa isi perjanjian ditawarkan antara lain ; orang-orang Makassar di Maluku harus kembali ke negerinya, piutang Gowa selama perang akan dibayar VOC, kedua pihak tidak akan saling menyerang, ada pertukaran tawanan dan Belanda akan menangkap semua orang Makassar yang berlayar di perairan Maluku. Hasanuddin yang didukung Karaeng Karunrung, Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu menolak usulan ini. Sejak mula mereka menganggap Belanda hanya menipu. Apalagi semua tawaran merugikan Gowa. Aroma perang mulai menyebar. Gowa siaga satu. Kalamata menghunus parang.

Link Banner

Siapa Kalamata?.

Dalam “Genealogy Kesultanan Ternate, bagian 3”, Cristopher Buyers menyebut, Kalamata adalah putera Sultan Ternate ke 9, Mudaffar dari perkawinan ke-enamnya dengan seorang perempuan asal soa Kalamata. Tak ada waktu pasti kapan Kalamata lahir. Jika merujuk pada daftar milik Buyers, Mudaffar menikahi delapan perempuan berbeda sepanjang dirinya berkuasa antara tahun 1610 hingga 1627. Terdapat lima orang putera yang kelak berebut pengaruh dalam perjalanan Kesultanan Ternate. Selain Kalamata, Mudaffar juga memiliki dua putera dari isteri asal soa Kalamata itu yakni Kaicil Majira dan Kaicil Saidi.

Sedangkan dari perkawinan ke-tujuhnya dengan Bina, seorang perempuan dari Tobeleu, Ia dianugerahi satu putera bernama Kaicil Tahubo yang belakangan menjadi Sultan Ternate bergelar Mandar Syah. Ia naik tahta pertama kali menggantikan Hamzah pada 19 Juni 1648. Sultan Hamzah sejatinya bukan garis langsung yang dipersiapkan meneruskan tahta Ternate. Ia adalah kemenakan Sultan Saidi yang ditangkap Spanyol dan diasingkan ke Manila. Saat anak Saidi, Mudaffar berkuasa di Ternate, Hamzah meyakinkan petinggi Spanyol di Manila bahwa dirinya yang paling pantas menggantikan Mudaffar. Ia bahkan berbaiat setia pada Spanyol.

Baca Juga  Donci For Mama

Dalam buku M. Adnan Amal, “Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 – 1950”, Hamzah dipulangkan Spanyol ke Ternate awal Februari 1627 bersama penasihat spiritualnya seorang pastor dan mendiami benteng Gamlamo. Selama di Manila, putera dari Kaicil Tolu Suki ini telah memeluk Kristen dengan nama baptis Don Pedro De Cunha. Ketika Mudaffar mangkat, keinginan Spanyol menaikkan Hamzah ditentang para petinggi Kesultanan. Tak mungkin seorang Kristen menjadi Sultan. Ia akhirnya kembali memeluk Islam dan menjadi Sultan Ternate ke 10. Secara perlahan Hamzah mulai meninggalkan Spanyol dan meminta dukungan dari Belanda.

Hamzah yang berkuasa di antara tarikan kepentingan Spanyol dan Belanda saat itu tak lagi fokus mengurus Ternate. Berbagai pergolakan di daerah seberang muncul dan gagal dipadamkan. Pemberontakan besar pertama yang menunjukan ketidakpuasan pada pemerintahan Hamzah yang dinilai telah didikte oleh Belanda adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Salahakan Luhu. Belanda dan Hamzah kelimpuhan. Rakyat Maluku yang menderita akibat monopoli Belanda mendukung pemberontakan ini. Belakangan Luhu tertangkap dan dieksekusi mati bersama keluarga dan para pengikutnya.

Sultan lalu mengangkat Kaicil Majira sebagai Salahakan baru pengganti Luhu. Saudara seibu Kalamata ini semula menjalankan tugasnya dengan patuh. Namun saat dirinya berkeliling, Ia menemukan pemandangan memilukan bahwa rakyat sangat menderita karena perlakuan rakus Belanda. Majira kemudian angkat senjata. Tekad melawan Belanda makin kuat saat dirinya mengetahui sesaat sebelum Hamzah mangkat, Sultan Ternate itu telah menyerahkan Hitu dan Ambon kepada Belanda. Majira lalu menyerang semua benteng Belanda. Ia didukung penuh Raja Negeri Hative, Jan Pais dan sejumlah penguasa lokal. Ambalau hingga Manipa dikuasai Majira.

Belanda sekali lagi menderita banyak kerugian. Mereka meminta bantuan Sultan Mandar Syah yang baru naik tahta menggantikan Hamzah. Operasi bersama menangkap Majira membuat Salahakan pemberani ini terkepung dan memilih eksil ke Makassar. Ia sempat meminta bantuan Sultan Hasanuddin namun keburu tertangkap dan dihukum mati. Ketika menunggu eksekusi mati pada Januari 1657, Majira sempat dikunjungi saudara kandungnya, Kalamata. Pertemuan dua saudara ini yang makin menguatkan tekad Kalamata untuk melawan Belanda dan bergabung dengan pasukan Hasanuddin.

Dua tahun memerintah, Mandar Syah tak juga mampu mengendalikan Ternate yang semakin diatur Belanda. Ketidakpuasan makin membesar saat Sultan melepas banyak wilayah kekuasaan Ternate di pulau Seram dan menyerahkannya ke Belanda. Keputusan ini ditentang keras oleh Kapita Lau Kaicil Saidi – saudara seibu Kalamata, para bangsawan dari klan Tomagola, Majira dan Kaicil Manila – adik lain Ibu dari Mandar Syah. Kudeta terjadi. Mandar Syah dipaksa turun tahta dan digantikan Kaicil Manila. Selama lima tahun, putera Sultan Mudaffar dari dari isteri ke-delapan, seorang perempuan dari Kulaba ini memerintah Ternate dari “kadato” Kasturian. Ia didukung penuh oleh para bangsawan dan mereka yang menentang Belanda. Namun Manila tak tercatat dalam silsilah Sultan yang memerintah Ternate. Mungkin karena Belanda mengabaikannya setelah Ia terbukti ikut menentang mereka. Manila wafat pada tahun 1655. Karena Mandar Syah masih hidup, Ia kemudian naik tahta kembali dan berkuasa hingga 1675.

Baca Juga  Pahlawan

Adnan Amal mencatat, pemerintahan Mandar Syah adalah awal kemerosotan dari kejayaan Ternate. Selain gagal mempertahankan Buton, Ia juga jadi Sultan yang merestui penebangan besar-besaran pohon cengkih mengikuti keinginan Belanda. Penjajah yang tamak itu berharap harga cengkih akan semakin mahal saat persediaannya terbatas sebagaimana hukum ekonomi. Di pulau Makian misalnya, rakyat ganti menanam kenari setelah pohon cengkih mereka habis diratakan dengan tanah. Skenario Belanda yang tertuang dalam perjanjian yang ditandatangi Mandar Syah sepulangnya dari Batavia ini nyatanya makin membuat rakyat sengsara. Kaicil Kalamata menolak traktat ini meski Ia diimingi Belanda dengan 500 ringgit setiap tahun sebagai ganti rugi. Akibat penolakannya, Kalamata yang baru dua bulan diangkat Mandar Syah sebagai Raja Jailolo dengan tujuan aneksasi akhirnya diberhentikan. Kalamata lalu menabuh genderang perang.

Sikap Mandar Syah yang selalu menyerahkan urusan tanah seberang – daerah yang dikuasai Ternate sejak Sultan Babullah Datu Sjah, membentang sepanjang pesisir timur Sulawesi, sebagian besar Maluku hingga Filipina kepada Belanda – juga memicu pemberontakan yang dipimpin putera Mudaffar lainnya. Adalah Kaicil Saidi, saudara kandung Kalamata yang menyerang kedudukan Belanda di Maluku Tengah. Saidi sebelumnya sempat terlibat dalam perang melawan Gowa saat mempertahankan Buton. Namun ketidakpedulian Mandar Syah saat itu yang berharap Belanda membantu membuat dirinya kalah dan mundur ke Seram. Ia kecewa. Marah pada Belanda yang suka mengadu domba. Pengalamannya sebagai Kapita Lau mempermudah dirinya memobilisasi orang-orang Tidore dan rakyat Maluku untuk melawan Belanda. Dalam sebuah pertempuran di Seram, Ia gugur. Putera tunggalnya ikut ditangkap dan dibuang ke Batavia.

Sejarawan Belanda, JC van Leur menyebut sebuah diktum penting bagaimana kita memandang sesuatu yang datang dari kesubliman ; Masa lalu tidak ditulis untuk dinilai dengan nilai masa kini. Dengan lanskap itu, Kalamata dan dua saudara kandungnya, Saidi dan Majira adalah tiga kandil heroisme menentang Belanda yang tak bisa dihapus begitu saja dari sejarah kebesaran Ternate. Dalam babad perang Gowa melawan Bone, Kalamata adalah salah panglima kepercayaan Sultan Hasanuddin. Dampak dari perang berkepanjangan ini kelak memunculkan putera mahkota Bone, Arung Palakka yang berkolaborasi dengan Belanda melawan Hasanuddin.

Baca Juga  Pemain Senior Barcelona Mengaku Kalah, Pasrah Real Madrid Juara

Jejak perlawanan Kalamata terang benderang sejak masa Sultan Mudaffar, Hamzah, Mandar Syah hingga Manila – yang tak diakui itu. Ia bersama saudara kandungnya terlibat dalam banyak pemberontakan melawan Belanda. Bukan melawan Ternate. Saat Manila mangkat, kelompok ini yang sejak awal menentang Belanda memilih berjuang di Maluku bagian Tengah. Terdesak oleh Belanda dan setelah Saidi tewas dalam pertempuran, Kalamata datang ke Gowa. Ia bersisian dengan Sultan Hasanuddin yang sejak awal merasa Belanda adalah penipu yang rakus. Kalamata sempat menjadi utusan khusus Hasanuddin saat menjajaki kerjasama dengan Sultan Saifuddin dari Tidore untuk bersama-sama menggempur Belanda di Ternate.

Keberanian Kalamata selama bergabung dengan pasukan Gowa membuat mangkubumi Karaeng Tallo jatuh hati. Ia kemudian menikahkan puterinya, Daeng Nija Karaeng Panaikang dengan Kalamata pada 5 September 1656. Perkawinan ketiga ini memberikan Kalamata seorang puteri, Boki Ruze. Kalamata sebelumnya pernah menikah dengan Boki Tobeleu, anak dari Kapita Lau Ali dan juga Siti Miriam. Sejarah mencatat, meski selalu bertentangan dengan Mandar Syah, kelak keturunan keduanya bersatu. Boki Ruze menikah dengan Kaicil Sibori Amsterdam – anak dari Mandar Syah bersama Boki Ainun, seorang puteri dari Miru berdarah Sahu – yang naik tahta menggantikan ayahnya pada 23 Februari 1667.

Hari-hari terakhir Kalamata adalah jalan panjang menapaki Makassar yang dikepung Belanda dan Bone. Tujuh tahun setelah Sultan Hasanuddin mangkat, Kalamata berpulang menyusul kompatriotnya itu pada 23 februari 1676.

Tak ada catatan yang lengkap tentang kematiannya. Makamnya pun sulit ditemukan di Makassar. Nama Kalamata terjebak pada romantisme dan kehilangan. Muram dalam ingatan. Tokh, perlawanannya menentang Belanda mendatangkan respek. Belanda menghormatinya. Di masa itu, ketika wajah kolonisme bertebaran. Belanda mampir dan berperang. Menang menetap kalah terusir. Tirani ditegakkan beratus tahun. Benteng-benteng penanda kuasa dibangun.

Hanya ada satu benteng di seluruh wilayah koloni, yang namanya menggunakan nama yang tak biasa. Mereka mengabadikan nama itu – nama yang melawan tanpa batas – di salah satu benteng mereka di Ternate. Semula Portugis membangun benteng di tepian pantai itu dengan nama Santa Lucia. Belanda lalu menggantinya dengan Kalamata. Nama benteng itu abadi hingga kini, seturut semangat juang sang Kaicil yang tak redup diterjang zaman.

Penulis futuristik, George Orwell memberi sebuah legacy penting ; Siapa yang mengontrol masa lalu akan mengontrol masa depan. Dengan itu, Kalamata selamanya akan abadi. (*)