Kalamata

oleh -372 views

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Utusan itu mendatangi istana Somba Opu. Di hadapan Sultan Hasanuddin dan petinggi kerajaan, utusan itu – Dirckh Schouten – meminta Gowa menyerahkan Pangeran Kalamata. Orang yang menurut Balanda bertanggungjawab atas penyerangan terhadap kapal mereka di perairan Buton. Belanda sangat rugi dan mengincar Kalamata. Hasanuddin tegas menolak permintaan itu. Gowa malah balik menekan Belanda dan meminta mereka membayar kerugian atas perampasan sebuah kapal berbendera Portugis, St, Joan Bapthista, yang di dalamnya terdapat saham kerajaan. Situasi di balairung memanas. Kedua pihak bersikeras dan pada akhirnya kebuntuan menjemput.

Kisruh ini bermula sekitar April 1655, Sultan Hasanuddin memimpin armada Gowa menyerang Buton. Dampak serangan itu sungguh dahsyat. Buton yang merupakan wilayah Kesultanan Ternate dan berafliasi dengan Belanda luluh lantak. Sultan Mandarsyah sempat meminta bantuan Belanda. Ia juga mengirim Kaicil Saidi untuk mempertahankan Buton. Namun upaya itu tak berhasil. Buton lepas. Belanda rugi besar. Laksamana de Vlammingh yang dikirim beberapa saat setelah penyerangan itu hanya menemukan reruntuhan kerajaan Buton. Karenanya, Belanda mulai berhitung, harus ada perjanjian damai dengan Gowa.