Kalamata

oleh -374 views

Hamzah yang berkuasa di antara tarikan kepentingan Spanyol dan Belanda saat itu tak lagi fokus mengurus Ternate. Berbagai pergolakan di daerah seberang muncul dan gagal dipadamkan. Pemberontakan besar pertama yang menunjukan ketidakpuasan pada pemerintahan Hamzah yang dinilai telah didikte oleh Belanda adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Salahakan Luhu. Belanda dan Hamzah kelimpuhan. Rakyat Maluku yang menderita akibat monopoli Belanda mendukung pemberontakan ini. Belakangan Luhu tertangkap dan dieksekusi mati bersama keluarga dan para pengikutnya.

Sultan lalu mengangkat Kaicil Majira sebagai Salahakan baru pengganti Luhu. Saudara seibu Kalamata ini semula menjalankan tugasnya dengan patuh. Namun saat dirinya berkeliling, Ia menemukan pemandangan memilukan bahwa rakyat sangat menderita karena perlakuan rakus Belanda. Majira kemudian angkat senjata. Tekad melawan Belanda makin kuat saat dirinya mengetahui sesaat sebelum Hamzah mangkat, Sultan Ternate itu telah menyerahkan Hitu dan Ambon kepada Belanda. Majira lalu menyerang semua benteng Belanda. Ia didukung penuh Raja Negeri Hative, Jan Pais dan sejumlah penguasa lokal. Ambalau hingga Manipa dikuasai Majira.

Baca Juga  Gubernur Maluku Sambut Gubernur Kaltim di Bandara Pattimura

Belanda sekali lagi menderita banyak kerugian. Mereka meminta bantuan Sultan Mandar Syah yang baru naik tahta menggantikan Hamzah. Operasi bersama menangkap Majira membuat Salahakan pemberani ini terkepung dan memilih eksil ke Makassar. Ia sempat meminta bantuan Sultan Hasanuddin namun keburu tertangkap dan dihukum mati. Ketika menunggu eksekusi mati pada Januari 1657, Majira sempat dikunjungi saudara kandungnya, Kalamata. Pertemuan dua saudara ini yang makin menguatkan tekad Kalamata untuk melawan Belanda dan bergabung dengan pasukan Hasanuddin.