Sedangkan dari perkawinan ke-tujuhnya dengan Bina, seorang perempuan dari Tobeleu, Ia dianugerahi satu putera bernama Kaicil Tahubo yang belakangan menjadi Sultan Ternate bergelar Mandar Syah. Ia naik tahta pertama kali menggantikan Hamzah pada 19 Juni 1648. Sultan Hamzah sejatinya bukan garis langsung yang dipersiapkan meneruskan tahta Ternate. Ia adalah kemenakan Sultan Saidi yang ditangkap Spanyol dan diasingkan ke Manila. Saat anak Saidi, Mudaffar berkuasa di Ternate, Hamzah meyakinkan petinggi Spanyol di Manila bahwa dirinya yang paling pantas menggantikan Mudaffar. Ia bahkan berbaiat setia pada Spanyol.
Dalam buku M. Adnan Amal, “Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 – 1950”, Hamzah dipulangkan Spanyol ke Ternate awal Februari 1627 bersama penasihat spiritualnya seorang pastor dan mendiami benteng Gamlamo. Selama di Manila, putera dari Kaicil Tolu Suki ini telah memeluk Kristen dengan nama baptis Don Pedro De Cunha. Ketika Mudaffar mangkat, keinginan Spanyol menaikkan Hamzah ditentang para petinggi Kesultanan. Tak mungkin seorang Kristen menjadi Sultan. Ia akhirnya kembali memeluk Islam dan menjadi Sultan Ternate ke 10. Secara perlahan Hamzah mulai meninggalkan Spanyol dan meminta dukungan dari Belanda.





