Jejak perlawanan Kalamata terang benderang sejak masa Sultan Mudaffar, Hamzah, Mandar Syah hingga Manila – yang tak diakui itu. Ia bersama saudara kandungnya terlibat dalam banyak pemberontakan melawan Belanda. Bukan melawan Ternate. Saat Manila mangkat, kelompok ini yang sejak awal menentang Belanda memilih berjuang di Maluku bagian Tengah. Terdesak oleh Belanda dan setelah Saidi tewas dalam pertempuran, Kalamata datang ke Gowa. Ia bersisian dengan Sultan Hasanuddin yang sejak awal merasa Belanda adalah penipu yang rakus. Kalamata sempat menjadi utusan khusus Hasanuddin saat menjajaki kerjasama dengan Sultan Saifuddin dari Tidore untuk bersama-sama menggempur Belanda di Ternate.
Keberanian Kalamata selama bergabung dengan pasukan Gowa membuat mangkubumi Karaeng Tallo jatuh hati. Ia kemudian menikahkan puterinya, Daeng Nija Karaeng Panaikang dengan Kalamata pada 5 September 1656. Perkawinan ketiga ini memberikan Kalamata seorang puteri, Boki Ruze. Kalamata sebelumnya pernah menikah dengan Boki Tobeleu, anak dari Kapita Lau Ali dan juga Siti Miriam. Sejarah mencatat, meski selalu bertentangan dengan Mandar Syah, kelak keturunan keduanya bersatu. Boki Ruze menikah dengan Kaicil Sibori Amsterdam – anak dari Mandar Syah bersama Boki Ainun, seorang puteri dari Miru berdarah Sahu – yang naik tahta menggantikan ayahnya pada 23 Februari 1667.





