Hari-hari terakhir Kalamata adalah jalan panjang menapaki Makassar yang dikepung Belanda dan Bone. Tujuh tahun setelah Sultan Hasanuddin mangkat, Kalamata berpulang menyusul kompatriotnya itu pada 23 februari 1676.
Tak ada catatan yang lengkap tentang kematiannya. Makamnya pun sulit ditemukan di Makassar. Nama Kalamata terjebak pada romantisme dan kehilangan. Muram dalam ingatan. Tokh, perlawanannya menentang Belanda mendatangkan respek. Belanda menghormatinya. Di masa itu, ketika wajah kolonisme bertebaran. Belanda mampir dan berperang. Menang menetap kalah terusir. Tirani ditegakkan beratus tahun. Benteng-benteng penanda kuasa dibangun.
Hanya ada satu benteng di seluruh wilayah koloni, yang namanya menggunakan nama yang tak biasa. Mereka mengabadikan nama itu – nama yang melawan tanpa batas – di salah satu benteng mereka di Ternate. Semula Portugis membangun benteng di tepian pantai itu dengan nama Santa Lucia. Belanda lalu menggantinya dengan Kalamata. Nama benteng itu abadi hingga kini, seturut semangat juang sang Kaicil yang tak redup diterjang zaman.
Penulis futuristik, George Orwell memberi sebuah legacy penting ; Siapa yang mengontrol masa lalu akan mengontrol masa depan. Dengan itu, Kalamata selamanya akan abadi. (*)





