Kalamata

oleh -378 views

Sikap Mandar Syah yang selalu menyerahkan urusan tanah seberang – daerah yang dikuasai Ternate sejak Sultan Babullah Datu Sjah, membentang sepanjang pesisir timur Sulawesi, sebagian besar Maluku hingga Filipina kepada Belanda – juga memicu pemberontakan yang dipimpin putera Mudaffar lainnya. Adalah Kaicil Saidi, saudara kandung Kalamata yang menyerang kedudukan Belanda di Maluku Tengah. Saidi sebelumnya sempat terlibat dalam perang melawan Gowa saat mempertahankan Buton. Namun ketidakpedulian Mandar Syah saat itu yang berharap Belanda membantu membuat dirinya kalah dan mundur ke Seram. Ia kecewa. Marah pada Belanda yang suka mengadu domba. Pengalamannya sebagai Kapita Lau mempermudah dirinya memobilisasi orang-orang Tidore dan rakyat Maluku untuk melawan Belanda. Dalam sebuah pertempuran di Seram, Ia gugur. Putera tunggalnya ikut ditangkap dan dibuang ke Batavia.

Baca Juga  Kejagung Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana, Harta Kekayaan Rp9,02 Miliar Disorot

Sejarawan Belanda, JC van Leur menyebut sebuah diktum penting bagaimana kita memandang sesuatu yang datang dari kesubliman ; Masa lalu tidak ditulis untuk dinilai dengan nilai masa kini. Dengan lanskap itu, Kalamata dan dua saudara kandungnya, Saidi dan Majira adalah tiga kandil heroisme menentang Belanda yang tak bisa dihapus begitu saja dari sejarah kebesaran Ternate. Dalam babad perang Gowa melawan Bone, Kalamata adalah salah panglima kepercayaan Sultan Hasanuddin. Dampak dari perang berkepanjangan ini kelak memunculkan putera mahkota Bone, Arung Palakka yang berkolaborasi dengan Belanda melawan Hasanuddin.