Kalamata

oleh -376 views

23 Oktober di tahun yang sama, Belanda mengutus Willem van Der Beek bersama Khoja Suleman – seorang Armenia yang jago berdiplomasi – untuk berunding dengan Hasanuddin. Beberapa isi perjanjian ditawarkan antara lain ; orang-orang Makassar di Maluku harus kembali ke negerinya, piutang Gowa selama perang akan dibayar VOC, kedua pihak tidak akan saling menyerang, ada pertukaran tawanan dan Belanda akan menangkap semua orang Makassar yang berlayar di perairan Maluku. Hasanuddin yang didukung Karaeng Karunrung, Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu menolak usulan ini. Sejak mula mereka menganggap Belanda hanya menipu. Apalagi semua tawaran merugikan Gowa. Aroma perang mulai menyebar. Gowa siaga satu. Kalamata menghunus parang.

Baca Juga  Sertipikat Tanah Hilang? Ini Cara Mengurus Penerbitan Penggantinya

Siapa Kalamata?.

Dalam “Genealogy Kesultanan Ternate, bagian 3”, Cristopher Buyers menyebut, Kalamata adalah putera Sultan Ternate ke 9, Mudaffar dari perkawinan ke-enamnya dengan seorang perempuan asal soa Kalamata. Tak ada waktu pasti kapan Kalamata lahir. Jika merujuk pada daftar milik Buyers, Mudaffar menikahi delapan perempuan berbeda sepanjang dirinya berkuasa antara tahun 1610 hingga 1627. Terdapat lima orang putera yang kelak berebut pengaruh dalam perjalanan Kesultanan Ternate. Selain Kalamata, Mudaffar juga memiliki dua putera dari isteri asal soa Kalamata itu yakni Kaicil Majira dan Kaicil Saidi.