Kejaksaan Tangkap Tersangka Korupsi Proyek Taman Kota Kepulauan Tanimbar

oleh -206 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Sempat kabur dan menjadi DPO Kejaksaan Tinggi Maluku sejak juli 2021, Hartanto Hoetomo Direktur PT. Inti Artha Nusantara, tersangka dalam kasus korupsi proyek pengangunan taman Kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) akhirnya diringkus tim tangkap buron (Tabur) Kejaksaan  Tinggi Maluku bersama Kejaksaan Agung RI.

Hoetomo berhasil diringkus tim tabur gabungan di kawasan Jl. H. Suaib I, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (5/9) sekitar pukul  12.58 WIB. 

Usai ditangkap, DPO Kejati Maluku ini langsung diberangkatkan dari Jakarta ke Kota Ambon dengan dikawal langsung oleh tim Tabur Kejaksaan Tinggi Maluku. Setelah pengecekan administrasi di Kejati Maluku, tersangka langsung dititipkan di Rutan Waiheru Ambon.

Baca Juga  Aklamasi: Gafar Lestaluhu Ketua APSSI Maluku

Kontraktor asal Surabaya ini diketahui melakukan tindakan yang merugikan negara miliaran rupiah, setelah Badan Periksa Keuangan Provinsi (BPKP) melakukan audit  pada proyek yang menggunakan APBD Kabupaten KKT tahun 2017.

Kasi Penkum dan Humas Kejati Maluku Wahyudi Kareba mengatakan tersangka ditangkap tim kejaksaan di Jakarta, 3 September 2021 dan sudah diterbangkan ke Ambon. 

“Tersangka berinisial HH alias Hartanto (58) ini diringkus tim Tabur di Jalan H Suaib I, Kebon Jeruk, Jakarta Barat sejak tanggal 3 September 2021 dan hari ini dibawa ke Ambon,” kata Wahyudi melansir jpnn.com, Ahad (5/9/2021). 

Tersangka HH alias Hartono (58) yang merupakan Komisaris PT Inti Artha Nusantara ini ditangkap setelah berulang kali dipanggil jaksa penyidik Kejati Maluku guna diperiksa sebagai tersangka.

Baca Juga  Januari 2021, Pemkot Ambon Bangun Pusat Industri Kreatif

Wahyudi menjelaskan tersangka selalu menggunakan berbagai dalih untuk menghindari panggilan jaksa, seperti mencari penasihat hukum hingga terpapar Covid-19. 

Sejak awal, Kejati Maluku sudah mengetahui tempat tinggal tersangka, yakni di Jalan Kendang Sari YKP 2/6 RT 001 Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur, dan satu alamat lagi di Jakarta.

Dalam kasus bernilai Rp 4,5 miliar ini, bos PT IAN itu ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga orang lain yang saat ini mendekam di Rutan Kelas II Ambon, yaitu Kepala Dinas PUPR KKT Andrianus Sihasale, Wilma Fenanlampir selaku PPTK, dan Frans Yulianus Pelamonia selaku pengawas.

Proyek Taman Kota itu menggunakan sumber anggaran dari APBD Kepulauan Tanimbar Tahun Anggaran 2017.

Baca Juga  Komisi VII DPR Minta SKK Migas Perjelas Offtaker Gas Blok Masela

Berdasarkan hasil audit BPKP RI Perwakilan Provinsi Maluku, akibat perbuatan para terdakwa, negara mengalami kerugian hingga Rp 1,38 miliar.

(red/jpnn)

No More Posts Available.

No more pages to load.