Dalam hal ini, Letkol Soeharto dan pasukannya, bahkan sejak sebelum Belanda menduduki Yogya sampai penarikan pasukan Belanda dari Wonosari dan Yogyakarta, bahkan sampai pelantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden R.I.S., overste Soeharto selalu aktif dalam mengkonsolidasikan pasukan TNI/anak buahnya, baik dalam rangka perayaan maupun untuk pengamanan rakyat dan para penjabat sipil.
Maka, jika ada seorang pelaku sejarah yang (mungkin karena memilih ideologi yang berbeda di kemudian hari) mengatakan bahwa Letkol Soeharto leyeh-leyehan saja makan soto babat saat Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya terjadi, yang melibatkan tidak kurang dari 2.000 orang TNI dan para pejuang dari berbagai kelompok, maka terserah kepada logika generasi sekarang sajalah untuk menilainya. (*)
Leiden, Sabtu 5 Maret 2022
(sumber: sumbarsatu.com)











