“Kepulauan Sula, Menelusuri Jejak dan Identitas.” (Merekonstruksi Memori Kolektif)

oleh -56 Dilihat

James Morris Blaut (1992), antropolog dan ahli geografi Universitas Chicago dalam 1492-The Debate on Colonialism, Eurocenterism, and History, juga menggugat kolonialisme dan eurosentrisme dalam sejarah global ini. Gavin Menzies dan Ian Hudson (2013), bahkan membantah penemuan Columbus tersebut, karena menurutnya armada besar China telah menemukan Amerika pada 1421. Dan sejarah awal renaisans, bukanlah berawal dari Italia, namun China lah yang mempengaruhi renaisans Eropa sejak tahun 1434.

Nakh, betapa banyaknya detil sejarah harus direvisi dan dikoreksi untuk direkonstruksi.
Untuk itulah saya berpendapat bahwa inisiatif Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Maluku
Utara, guna menyusun historisitas Kepulauan Sula ini, sebagai sebuah momentum yang
mencerdaskan dan menggugah kita, untuk merekonstruksi memori kolektif. Dan
menjadikannya literasi serta narasi dengan berbasis database lokal. Walaupun sejarawan ahli Maluku pada Leiden University, Henk Niejmeijer (2012) menyatakan bahwa tidak ada satupun peristiwa di Maluku, yang tidak terkait dengan sejarah Eropa dan Amerika.

Baca Juga  Warga MBD Hibahkan 9 Hektare Lahan untuk PLTS, Anos Yeremias Dorong Percepatan Elektrifikasi

Bisa kita pahami mengapa A.B. Lapian menyatakan globalisasi peradaban sebagai interaksi manusia pada era Silk Road (Jalur Sutera), sebenarnya berawal dari Spices Road (Jalur Rempah). Dan itu semua bermula dari Maluku Utara. Andre Gunder Frank (1998), dalam ReOrient: Global Economy in the Asian Age malah mendamprat semua ilmu sosial yang terlanjur eurosentris tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.