“Kepulauan Sula, Menelusuri Jejak dan Identitas.” (Merekonstruksi Memori Kolektif)

oleh -54 Dilihat

Pada periode lainnya, tercatat juga nama Haji Ngade alias Machmud Haji Ali Buamona, yang
terlibat sebagai pelaku dalam pemberontakan Kapal Perang Belanda, HNLMS De Seven
Provincien, di pelabuhan Ulelheu, Sabang-Aceh pada 27 Januari 1933. Ia adalah salah satu
prajurit Koninklijk Marine (Angkatan Laut Belanda), yang mengkudeta nakhoda kapal Letnan Kolonel Eikenboom dan seluruh perwiranya. Mereka menguasai kapal perang terbesar Belanda tersebut, hingga dilumpuhkan dengan bom oleh pesawat pembom Dornier D-11, di Selat Sunda atas perintah Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda, Laurentius Nicolaas Deckers. Kapal Perang De Zeven Provincien dilumpuhkan dengan bom karena memang tidak dilengkapi meriam penangkis serangan udara.

Namun peristiwa ini, demikian monumental hingga turut dibahas oleh sejarawan M.C.
Ricklefs (1981), juga John Ingleson (1983) dalam bukunya dengan mengupas motif ideologis dalam pemberontakan tersebut sebagaimana yang dituduhkan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge sebagai agitasi politik. Salah satu penyebab disebut adalah lahirnya Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Schoolen Ordonantie) pada 1932, yang turut memicu ketidakpuasan para bumiputera, karena akses terhadap lembaga pendidikan bumiputera semakin dibatasi dan dikenai sanksi denda serta ancaman penjara jika melanggar.

No More Posts Available.

No more pages to load.