Di bawah Salahakang juga ada struktur Utusan, yang sering bertugas di Taliabu sebagai
subordinasi Salahakang. Sebagaimana Jurutulis, Alferis dan para serdadu. Mereka menetap di Likitobi, pesisir selatan.
Dalam struktur sosial masyarakat Sula, juga disebut de’Clercq, memiliki Kimalaha dan Hukum, sebagai pejabat rendah dibawah struktur pemerintahan, untuk masyarakat muslim.
Mangole sendiri disebut orang Sulabesi dengan istilah ‘big-island’ atau Mangole Tanah Besar, yang memiliki beberapa kampung berasal dari distrik Gae. Sula sendiri mengolah minyak kayu putih dari Buru dan tempat transaksi minyak kayu putih adalah Ambon dan Kayeli. Juga perahu-perahu Mandar yang sering membawa sarong dan madapollan (kain katun dan linen).
Untuk soal bahasa, Francois Valentijn, mencatat selain bahasa Sula yang digunakan di Sulabesi, ada juga yang berbahasa ‘Xula Talyabu’ dan ‘Xula Mangole.’ Xula Talyabu dipakai di Likitobi, Woiyo, Singa, Kakibo, Lede, Samade dan Made. Sedangkan Xula Mangole digunakan Waytima dan Mangole.
Menurut Paul Michael Taylor, kemungkinan besar Valentijn tidak memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari Blekeer. Interaksi Kepulauan Sula, sebagai wilayah terselatan Provinsi Maluku Utara, menjadikannya unik, karena banyak pengaruh kosa kata Polynesian hingga Sanskrit, dalam percakapan sehari-harinya. Seperti kata wai, mahi, yang berarti air dan laut, berasal dari Polynesian. Paul Michael Taylor menyebutkan bahasa Maluku Utara adalah linguafranca, karena banyak kosakata serapan dari berbagai bahasa.









