Kepulaun Sula, adalah kawasan Maluku Utara yang pertama mengalami sejarah tsunami pada 1965, yang memakan korban jiwa dan hancurnya perkampungan pesisir di Sula. Daniel Hoornweg (2011) menyebut ada urgent agenda dalam menghadapi ancaman nyata climate change dewasa ini, di mana perencanaan wilayah (urban planning) membutuhkan reforestry, sebagai sebuah
keharusan tak terelakkan. Tentu saja, kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk hal ini.
Demikian juga Kepulauan Sula, hari jadi sebagai Ulang Tahun Kabupaten Sula, ditetapkan dengan menelusuri jejak-jejak historis, dimana terjadinya the moment of glory, untuk diangkat sebagai momentum historis yang bakal dijadikan memori kolektif bagi semua lapisan sosial. Termasuk momentum pembentukan struktur self governance Salahakang, yang diikuti
dengan pembentukan formasi sosial 12 Soa, adalah pertanda, bahwa tanpa kebersamaan,
sebuah peradaban tak akan terbangun dengan baik dan sempurna. Itulah mengapa Benedict
Anderson (1983) menyebut masyarakat bangsa sebagai Imagined Communities (masyarakat yang terbayangkan). Agar memori kolektif itu, terstruktur dengan baik, dan menjadi panduan bagi masa depan. Ia, bukan lagi serpihan-serpihan mutiara lepas.
Kuntowijoyo menyebut bahwa sejarah adalah persitiwa masa lalu yang di rekonstruksi, membangun kembali masa lalu tersebut, untuk kepentingan masa kini dan masa datang. Sebagaimana pesan sejarawan Prof. Taufik Abdullah (1996), pada Forum Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutera: ‘how to make the glory of the past, to the present and to design the better future.’









