Dalam sumbangan Dana Revolusi yang dipersembahkan rakyat Maluku Utara kepada Bung Karno, berupa 1.000 ton kopra, Sula mencatat jumlah terbesarsterbesar se-Maluku Utara, yakni 500 ton kopra. Morotai mencatat 300 ton, dan Tobelo-Galela mencapai 200 ton kopra.
Maluku Utara, saat itu membentuk DAKOMIB (Dana Kopra Maluku-Irian Barat), pada 1957,
untuk mendukung Perjuangan Irian Barat kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi, sekaligus
mewujudkan Maluku Utara sebagai provinsi defenitif. Terkumpulnya kopra sebanyak itu,
adalah seruan perjuangan dari Bupati M.S. Djahir alias Mang Anom, seorang zuriyat langsung Sultan Palembang Mahmud Badaruddin II, yang dibuang Belanda ke Ternate pada tahun 1822, yang keluarganya tersebar hingga kini di Kepulauan Sula dan Labuha, Halmahera Selatan.
Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, dibawah komando Letnan Dua
TNI-AD. Jacoub Mansyour, BA, pada tahun 1967, dan berhasil menembus Istana Presiden
Soekarno atas media dan jasa Letnan Satu Moerdiono (Pensiun Letjen dan mantan
Mensekneg R.I). Disamping itu, dari keterangan Drs. Iskandar Djae (mantan Wakil Walikota Ternate), bahwa orang tuanya di Desa Akelamo Kao, sebagai Kepala Desa, turut terlibat mengumpulkan kopra, karena ada perintah dari Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah.









