Situasi seperti ini sebenarnya bangsa ini sedang diuji kedewasaan dalam memandang kenikmatan yang agung sebagai bangsa yang merdeka. Jika bangsa ini masih komitmen terhadap kesepakatan awal terhadap nasionalisme, maka konflik saat ini sebagai pendewasaan menuju Indonesia yang hebat di kancah global. Tapi jika ini mencerminkan kemerosotan nilai-nilai nasionalisme, maka bangsa ini berarti dihadapkan pada kemunduran politik dan kembali lagi seperti masa seperti pada masa sebelum kemerdekaan. Dan Indonesia saat ini bisa jadi tinggal kenangan. Semua ini tergantung komitmen dan kedewasaan berpolitik bangsa dan para elite politik dalam memandang bangsa dan negara ini.
SAAT BANGSA SEMAKIN RAPUH. Ada kondisi yang memprihatinkan terkait dengan semangat nasionalisme bangsa Indonesia saat ini. Maraknya gerakan internasionalisme dalam bentuk liberalisme-kapitalisme di satu sisi dan fundamentalisme-puritanisme agama di sisi lain telah menggerus kesadaran nasionalisme warga bangsa Indonesia. Akibat faham internsionalisme yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi, hari ini kita melihat terjadinya transformasi kesadaran dari citizenship menjadi nitizenship. Kewargaan yang dibatasi oleh identitas kenegaraan (geografis dan politis) menjadi kewargaan lintas negara dan lintas geografis.









