Mengenang Kebangkitan Nasional adalah upaya menelusuri catatan sejarah penting tentang identitas karakter bangsa ini, yaitu bersatu dalam suka dan duka. Rasa persatuan yang mendalam bukan tanpa bukti nyata. Berabad-abad rakyat Indonesia dijajah oleh bangsa Barat, yang telah menyadarkan diri bahwa sikap nasionalisme sangat penting. Perbedaan yang melekat pada diri ditanggalkan dan dicari persamaan sebagai pengikat: sama-sama satu Bangsa, Bahasa dan Tanah air, Indonesia.
Sikap nasionalisme ini sebenarnya karakter terindah yang dipunyai bangsa ini. Sehingga diabadikan dengan sebuah kalimat indah: Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dalam perjalanan sejarah slogan tersebut sebenarnya masih belum diterima secara kaffah oleh sebagian elit politik. Peristiwa Piagam Jakarta adalah peristiwa yang mempertontonkan makna nasionalisme setengah hati. Sikap egois kelompok islam formalistik ingin mendominasi kepentingan politiknya. Tapi ini ditentang oleh kelompok minoritas dari Indonesia Timur. Akhirnya terjadi penyelesaian politik dengan dirubah sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dari fakta sejarah ini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa kebangkitan nasional bangsa ini belum sepenuhnya menyatu dalam jiwa bangsa ini. Hal ini terbukti saat ini, simbol-simbol agama, etnis, suku dan budaya menguat dan membahayakan nasionalisme. Gerakan mengatasnamakan jihad dan sikap arogansi kelompok ekstrim terhadap politisasi agama semakin hari semakin menguat. Dan diperparah lagi, dengan tampil para elite politik yang lebih berfikir pada kepentingan politik kekuasaan daripada politik kebangsaan.









