Ketika Memperingati Hari Kebangkitan Nasional Hanya Rutinitas Semata

oleh -613 views

Ada anomali sosial yang terjadi hari ini. Dulu tekanan bangsa lain menciptakan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan sehingga tumbuh harga diri sebagai bangsa. Bangsa Nusantara yang beragam mampu menggali dan menyatukan potensi sosial dan kultural yang ada untuk menghadapi tekanan dari luar. Kini tekanan dari bangsa lain justru mengancam kebersamaan dan persatuan. Ikrar sebagai bangsa dicampakkan, martabat bangsa diabaikan.

Dengan kata lain orang-orang dulu memiliki kesadaran kreatif menggali potensi diri untuk membangun kekuatan dari dalam melawan kekuatan luar. Orang sekarang justru hanyut dan larut dalam gerakan transnasional dengan mencampakkan potensi diri sebagai bangsa. Mereka bangga menjadi pemulung ide dan pengais sampah peradaban bangsa lain sambil mencaci maki peradaban bangsa sendiri.

Baca Juga  Tiga Keluarga di Langgur Klarifikasi Isu, Tegaskan Kasus Nus Kei Bukan Konflik Marga

Sikap ini muncul karena minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa sendiri dan miskinnya kesadaran terhadap tradisi dan budaya sendiri. Sejarah adalah referensi hidup bagi setiap bangsa. Suatu generasi yang tidak memiliki pemahaman terhadap sejarahnya sendiri seperti buih di atas gelombang lautan. Mudah diombang ambingkan keadaan dan dibohongi bangsa lain. Mereka menelan mentah-mentah setiap informasi dan pemikiran yang diberikan, tanpa reserve dan sikap kritis karena mereka tidak memiliki pemahaman sejarah yang bisa dijadikan referensi hidup untuk mengkritisi setiap informasi dan pemikiran yang diterima dari bangsa lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.