Tetapi mereka tentu berharap: ketika seorang presiden berbicara tentang mereka, jangan sampai kenyataan mereka ikut salah saat dibaca.
Bawang akhirnya menjadi lebih dari sekadar bawang. Ia berubah menjadi metafora kecil tentang kekuasaan yang sedang dikupas oleh rakyatnya sendiri—lapis demi lapis, video demi video, tawa demi tawa.
Dan mungkin, inilah ironi paling pahit dari kisah ini: yang dikupas bukan hanya bawang, tetapi juga wibawa.
Susanah boleh kembali kepada mesin jahitnya. Para pengupas bawang kembali kepada pisau dan talenan mereka. Tetapi lelucon itu sudah telanjur terbang ke mana-mana.
Di negeri ini, rupanya ada pekerjaan yang upahnya bisa salah baca.
Tetapi wibawa yang sudah tergerus oleh tawa, tidak mudah dibaca kembali. (**)










