Buku tersebut juga menggambarkan sosok Uwais dengan sangat rinci berdasarkan riwayat para ulama. Uwais digambarkan sebagai pemuda yang sederhana dalam penampilan, berkulit gelap dengan tubuh bidang dan tinggi yang sedang. Wajah dan kulitnya digambarkan hampir menyamai warna tanah, sementara janggutnya panjang hingga menyentuh dada. Tatapannya senantiasa tertunduk, seolah matanya selalu mengarah ke tempat sujud, sebuah tanda kerendahan hati yang mendalam. Sikapnya pun selalu diliputi ketenangan; tangan kanannya biasa diletakkan di atas tangan kiri sebagaimana kebiasaan orang yang banyak berdzikir.
Disebutkan pula bahwa Uwais sering menangisi dirinya sendiri karena rasa takut dan tunduk kepada Allah. Tangisannya begitu dalam hingga air mata yang mengalir membuat bibirnya terlihat membengkak. Ia memakai pakaian dari bulu yang sangat sederhana, namun di sisi penduduk langit, namanya justru amat terkenal. Salah satu tanda yang disebutkan Nabi adalah sebuah tompok putih di bawah bahu kirinya, ciri khusus yang kelak dikenali Umar saat bertemu dengannya.
Riwayat itu juga mengungkapkan kedudukan yang luar biasa bagi Uwais pada hari kiamat, hingga ia disebut akan menjadi perantara bagi banyak hamba Allah yang memerlukan syafaat. Besarnya jumlah orang yang mendapat ampunan melalui dirinya diumpamakan sebanyak bulu pada seluruh kambing milik dua kabilah besar Arab, Rabi’ah dan Mudhar. Karena itulah Rasulullah menekankan bahwa bila Umar dan Ali menemukannya, mereka hendaknya meminta doa kepada Uwais, sebab Allah mengangkat derajatnya dengan sangat tinggi.










