Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa pada masa kepemimpinannya, Umar benar-benar melaksanakan pesan Rasulullah SAW tersebut. Setiap rombongan Yaman yang tiba di Madinah selalu ditanyainya tentang keberadaan Uwais.
Ketika akhirnya Umar menemukannya, ia melihat sendiri tanda-tanda yang disebutkan Nabi, terutama sifat rendah hati Uwais yang tak pernah menonjolkan diri. Umar kemudian meminta Uwais mendoakannya, sebagaimana diperintahkan Rasulullah. Peristiwa ini menjadi bukti betapa mulianya kedudukan spiritual Uwais, hingga seorang khalifah yang agung pun meminta didoakan oleh seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan.
Kesederhanaan dan Ketakwaan
Uwais digambarkan sebagai pribadi yang sangat zuhud. Ia tidak mencari perhatian, tidak membangun reputasi, dan selalu menghindari popularitas. Uwais bahkan sering menyembunyikan amal kebaikannya, khawatir hal itu akan menimbulkan rasa bangga atau ketergantungan pada pujian manusia.
Uwais memiliki kebiasaan bersedekah dari hasil kerjanya sebagai penggembala. Ia lebih memilih memberikan makanan atau pakaian kepada fakir miskin dibanding menyimpannya untuk diri sendiri. Hidupnya benar-benar diarahkan untuk mencari keridaan Allah, bukan keuntungan duniawi. Atas sikap inilah ia kemudian dijadikan inspirasi di dunia tasawuf sebagai simbol kesucian hati dan keikhlasan.









