Lulus atau Luruh: Makna Idulfitri yang Sering Terlewat

oleh -7 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Idulfitri mengetuk pelan, membawa gema kemenangan yang seharusnya kita rawat dengan kesadaran yang utuh. Gema takbir yang bergema, dan tangan-tangan yang saling memaafkan adalah keindahan yang tak boleh dipandang ringan—namun di balik itu, ada makna yang sering luput kita jaga. Bahwa kemenangan sejati bukan berhenti pada perayaan, melainkan pada kesanggupan menjaga hati tetap bersih setelahnya, dan langkah tetap setia pada kebaikan yang telah dirintis.

Sebab kemenangan itu tidak lahir begitu saja, tidak pula hadir dari perayaan semata. Ramadhan bukan sekadar bulan, ia adalah madrasah jiwa. Tempat kita ditempa, dibakar, dilatih menahan diri dari yang halal—agar kelak mampu menjauhi yang haram. Ia mendidik kita dalam diam: tentang lapar yang mengajarkan empati, tentang haus yang menumbuhkan kesabaran, tentang sunyi yang mempertemukan kita dengan diri sendiri.

Baca Juga  Masih Menyusui Jadi Alasan Tersangka Kasus Dugaan Arisan di Halteng Belum Ditahan

Dan kini, setelah kita keluar dari madrasah Ramadan, kita berdiri di ambang kelulusan.

Namun kelulusan itu tidak diumumkan dengan ijazah, tidak pula dengan angka-angka. Ia hanya bisa dibaca dari satu hal yang sederhana, tapi tak mudah: apakah kita mampu mempertahankan pelajaran yang telah ditanamkan selama sebulan penuh?

No More Posts Available.

No more pages to load.