Oleh: Nazaruddin, Kolumnis/Pemerhati Sosial Politik
Dalam panggung politik kontemporer, angka bukan lagi sekadar instrumen statistik untuk mengevaluasi kebijakan, melainkan telah bermutasi menjadi mantra sihir. Ia diproduksi untuk membius nalar publik, mempercantik borok birokrasi, dan yang paling klise: menyenangkan telinga penguasa. Fenomena inilah yang secara vulgar dipertontonkan oleh Menteri Pendidikan Dasar Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pasca-rapat di Istana Merdeka baru-baru ini.
Di hadapan media, menteri menyodorkan klaim yang teramat bombastis. Ia menyatakan bahwa 80,7 persen dari target program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah terealisasi. Dari sana, lahir konklusi sepihak: sekitar 43 juta sekian siswa dan jutaan guru mengaku puas dan meminta program yang sarat masalah ini diteruskan. Sebuah narasi yang terdengar begitu romantis, seolah-olah seantero sekolah di republik ini sedang bersukacita. Namun, bagi siapa saja yang merawat akal sehat, pernyataan tersebut adalah bentuk propaganda politik dan kebohongan publik yang telanjang.
Manipulasi Metodologi dan Demografi
Jika kita membedah pernyataan menteri secara dingin, pertanyaan mendasar yang wajib diajukan adalah: bagaimana metodologi ilmiah yang digunakan hingga muncul klaim bahwa ada puluhan juta orang yang “meminta” program ini diteruskan? Apakah kementerian telah menyebar kuesioner raksasa secara organik ke setiap meja kelas, ataukah angka fantastis itu hanyalah asumsi sepihak yang dicatut dari nota manifes pengiriman logistik?











