Masa Kecil dan Masa Depan

oleh -33 views
Link Banner

Oleh: M. Fazwan Wasahua, pegiat Kebudayaan

Saya ingin kembali ke Walang Tepi Sungai (WTS) untuk menghabiskan beberapa bacaan. Jalan yang saya pilih adalah menyusuri pelataran kali. Terlihat beberapa ‘bocah’ sedang asyik mandi sambil bermain. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Seketika saja saya teringat masa lalu. Ketika masih di usia seperti mereka, yang saya habiskan dengan banyak bermain, mandi di kali, menjadi bolang di hutan-hutan yang tak jauh dari tempat tinggal, atau kesenangan-kesenangan lainnya. Kenangan yang sulit terlupakan.

Saat itu, sebagaimana anak-anak lain di usia belia, tak pernah terlintas sama sekali akan menjadi apa kelak ketika dewasa. Apalagi, harus risau memikirkan soal problematika kehidupan. Apakah harus kuliah ataukah bekerja. Apakah bekerja ataukah berwiraswasta, dan semacamnya. Rutinitas tiap hari ketika masa kecil adalah makan, tidur, sekolah, bermain, ditambah menonton film dragon ball atau serial kartun yang selalu tayang setiap akhir pekan pagi hingga siang. Tontonan yang selalu dinanti-nanti oleh kebanyakan anak-anak sebaya seperti saya waktu itu.

Tak ada obrolan politik, prediksi pemilu, krisis ekonomi, pemberitaan soal harga bawang dan cabai atau sembako yang naik, neraca eksport-import, kebijakan pemerintah yang terkesan amburadul, penyerobotan tanah ulayat untuk pembangunan korporasi tambang, kayu, atau semacamnya. Apalagi harus capek-capek konsolidasi ide dan gagasan untuk melakukan aksi perubahan sosial. Semua adalah pekerjaan yang, sama sekali tak pernah saya–kami–pikirkan. Masa kanak-kanak dilalui dengan penuh kesenangan, dan tanpa ada beban.

Namun, tetap saja, masih ada pekerjaan yang paling membosankan, adalah ketika harus berjalan kaki beberapa kilo untuk sampai di sekolah. Dan harus mengulang hal yang sama ketika pulang. Rutinitas berulang setiap hari senin hingga sabtu, selama beberapa Tahun.

Pekerjaan membosankan lainnya adalah ketika disuruh harus tidur siang, mengaji, belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, menimbah air di sumur, atau mencari tempurung untuk digunakan membakar ikan. Saya pikir tiap anak-anak kecil, setidaknya yang melalui masa belianya seperti saya, akan memiliki pengalaman membosankan masing-masing, yang mereka kenang sebagai satu cerita, satu kisah yang ketika saat ini dikenang akan membuat senyum kecil tampak dari raut wajah mereka yang–mungin saja–mulai keriput.

*

Bagi sebagian kalangan, kesadaran adalah soal kedewasaan psikologi. Pengalaman hidup akan mendewasakan seseorang. Jadi, saat itu kesadaran anak belia, seperti saya, tentunya, belum seperti saat sekarang ini. Jika saja pada saat itu kesadaran saya mulai tumbuh seperti yang saya rasakan saat ini, maka saya akan lebih memilih menghabiskan waktu untuk belajar: membaca buku, menghafal kitab suci, rumus-rumus matematika, atau melakukan eksperimen-eksperimen sederhana, sebagai stimulus bagi kerja kognitif otak. Agar menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan.

Baca Juga  RDP Belum Bisa Digelar, ini Harapan Komisi II DPRD Kepsul kepada Dinas Pendidikan

Jika kebiasaan itu saya mulai sejak kanak-kanak, maka kini, mungkin, saya telah menerima berbagai deretan penghargaan, nobel, atau hak royalti dari penemuan-penemuan genius yang telah saya kerjakan, dan telah dimanfaatkan oleh umat manusia. Seperti yang pernah dilakukan oleh ilmuan-ilmuan terdahulu. Semacam Tesla, Einstein, Hisenberg, Newton, atau yang lebih tua semisal Ibnu Sina, Biruni, Nashiruddin at Thusi, al Khawarizmi, dan ilmuan-ilmuan lainnya. Mereka semua telah bersumbangsih bagi pertumbuhan peradaban umat manusia dari masa ke masa.

Disamping itu, masa belia adalah masa tanpa masalah, setidaknya masalah soal keinginan pribadi. Sekalipun ada, bukan kita yang harus menanggungnya sendiri. Kita menginginkan mainan, maka cukup dengan merengek dan meraju dihadapan orang tua, maka persoalan selesai. Hasrat kita lebih banyak terwujud ketimbang terabaikan. Jadi saat itu, persoalan pemenuhan hasrat adalah persoalan yang belum menjadi soal.

Namun ketika beranjak dewasa, kita mendapati kehidupan yang jauh berbeda. Semua tak lagi sama. Pengalaman hidup yang telah dilalui membawa kita pada kondisi-kondisi yang sama sekali ‘agak’ berlawanan. Jauh dari kata yang serba ada, nyaman dan menyenangkan. Kita tak bisa lagi menghabiskan waktu bermain, nonton film, mandi di kali, atau makan-tidur begitu saja. Kita terbawa pada satu kehidupan yang serba tak menentu. Tak menentu karena kenyataan tak selalu sejalan dengan keinginan, hasrat yang kuat. Hasrat yang kuat itu–kadang, dan mungkin–lebih banyak terhempas.

Kita tersadar oleh masalah yang sebelumnya tak kita anggap masalah. Masalah yang benar-benar masalah, yang harus kita selesaikan sendiri. Masalah yang untuk menyelesaikannya, kita tak dapat lagi berteriak, merengek, merajuk dihadapan orang tua agar diselesaikan. Kenyataannya kita harus menyelesaikannya sendiri, dengan pikiran dan perbuatan sendiri. Kita akhinya harus bertanya, apa sebenarnya masalah, dan kenapa kehidupan ini terkesan penuh dengan masalah.

Mengapa manusia mengalami banyak masalah. Sementara banyak masalah sama dengan banyaknya pertikaian. Setidaknya dengan diri manusia sendiri.

Sebagian orang akan berkata, masalah ada adalah karena hasrat/keinginan manusia tak sesuai kenyataan yang terjadi. Maka itulah masalah. Lalu, apa itu keinginan? Dan mengapa manudia harus memiliki keinginan, jika keinginan adalah pangkal masalah? Ini pertanyaan sulit, sulit untuk dipecahkan, bahkan oleh manusia sendiri.

Setiap detik keinginan manusia dapat berubah dengan begitu cepat. Detik ini kita menginginkan sesuatu, dan sepersekian detik lagi keinginan itu berubah ke sesuatu yang lain. Jika kita masih bertahan pada satu keadaan, maka itu hanya persoalan waktu, atau, keengganan berpindah dari satu model kenyamanan untuk mencoba hal yang baru.

Baca Juga  World Press Freedom Day 2020: AJI Nilai Kebebasan Pers Tergantung Situasi Politik

Artinya, ketika manusia merasa tak lagi membutuhkan yang saat ini digenggamannya, atau hal itu tak penting lagi menurutnya, maka dengan segera mereka akan mengubah keinginannya ke hal yang lain. Keinginan-keinginan itu, semacam enigma, sulit ditebak, diuraikan, atau setidaknya menjelaskannya, mengapa mereka harus menuruti dan mengikuti keinginan-keinginan itu.

Keinginan yang menjadi hasrat yang kuat, pada akhirnya akan membuat manusia selalu hidup dalam kecemasan. Seperti yang dikatakan Jaques Lacan, “…the gap betwen desire and jouissance is where anxiety is situated”. Mungkin benar, bahwa dibalik hasrat manusia selalu saja ada kecemasan. Kecemasan ketika hasrat menginginkan sesuatu agar terwujud, termiliki, rupanya tak sesuai kenyataan. Apalagi ketika kecemasan itu demikian kuat, sementara kenyataan yang kadangkala mengejutkan, dan guncangan psikologis lantaran tak mampu menerima kenyataan itu terjadi, akhirnya membuat kita bersikap diluar kendali. Dan akhirnya, masalah demi masalah terjadi telah membentuk semacam labirin, kita akan sulit keluar darinya.

Kecemasan, masih dalam pandangan Lacan, selalu terjadi pada saat sarana yang kita persiapkan terbentur, dan atau berakhir pada jalan buntu.

Kita akhirnya akan mengarah pada pertanyaan seperti yang pernah diajukan oleh Foucault, dalam bukunya “Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason”, “What desire can be contrary to nature since it was given to man by nature itself?

*

Kembali ke anak-anak tadi. Sambil menikmati asyiknya anak-anak belia itu bermain, saya membayangkan, jika di usia belia semacam itu, mereka telah dididik dalam tradisi keilmuan yang baik. Tentu mereka kelak akan menjadi generasi yang mumpuni, sebagai sarjana-sarjana yang ahli di bidangnya masing-masing.

Mereka tentu saja akan menguasai banyak kitab. Semacam kitab matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Al-Ashfahani dalam ilmu fiqih. Kitab Jurumiyah karya Ash-Shanhaji dalam Ilmu Nahwu. Kitab Matan Rahabiyah dalam ilmu faraidh. Ada juga kitab Aqidatul Awam dalam ilmu aqidah. Dan kitab Jazariyah dalam ilmu tajwid.

Itu baru terkait literatur keislaman. Bagaimana jika mereka akan mampu menguasai lebih banyak lagi, melintas batas-batas pakem dan tradisi yang selama ini sangat kaku dan itu-itu saja. Selain literatur keislaman yang akan dikuasai, mereka juga akan mendalami studi agama-agama yang selama ini digandrungi oleh banyak kalangan; seperti Katolik, Ortodoks, Protestan, Hindu, Budha, dan banyak lagi. Mereka akan menguasai taurat, zabur, injil, tripitaka, weda, bhavad ghita. Hingga persoalan-persoalan seputar perkembangan kebudayaan.

Baca Juga  Musisi Dunia Sepakat Musik pada Kampanye Harus Berizin

Selain kajian teoretis, penguasaan literatur itu akan mendorong mereka bersentuhan dengan kajian-kajian praktis, seperti etika, sains, dan matematika. Mereka akan mendalami pelbagai perkembangan psikologi dengan beragam pendekatan dan metode. Menjadi ilmuan yang mampu mengungkap banyak rahasia semesta, melalui penyibakan berbagai macam kodetifikasi yang selama ini terus berusaha dipecahkan oleh banyak ilmuan. Dan mereka juga akan mengurai berbagai macam persoalan-persoalan sistem matematika yang menunjukkan stagnansi kebaruan.

Karena setiap masalah kehidupan, bukan hanya soal keinginan yang tak terwujud, namun bagaimana kita, dengan pengetahuan yang terus berkembang mampu melakukan berbagai macam kreatifitas agar kebuntuan-kebuntuan yang menjadi masalah kehidupan dapat teratasi. Toh, masalah hidup adalah pekerjaan yang harus kita selesaikan sendiri.

Sebagian orang masih menjalani kehidupan dalam dunia dongeng. Semacam kepasrahan yang tak ada artinya. Bermodalkan keyakinan akan keimanannya, dengan mengandalkan jaminan keselamatan, mereka telah menganggapnya semacam garansi penyelesaian semua persoalan. Sehingga kehidupan akan baik-baik saja. Itu kebodohan. Benar bahwa keyakinan itu urgent, begitupula keimanan, namun masalah kehidupan tak akan selesai hanya dengan modal keyakinan dan keimanan yang ngambang. Hal semacam itu tak ubahnya ilusi.

Puncak dari setiap upaya menyelesaikan semua persoalan kehidupan adalah dengan tindakan, kepastian usaha yang tak platonik, bukan sekadar membaca mantra-mantra bak cerita lampu ajaib yang sekali ucap beres semua persoalan. Tentu saja kita akan berdo’a, namun Tuhan tak datang memberikan sepiring nasi lalu menyuapinya ke dalam mulut kita agar kenyang. Tuhan memberikan petunjuk, sebagai tanda agar kita tak sesat jalan, sebagai stimulus agar kita maj berjuang. Maka kita harus melangkah, berjalan, melewati rintangan-rintangan.

Saya jadi teringat puisi Roberto Bolano, dalam bukunya “The Unknown University”, yang ia beri judul, “Station Plaza”. Diakhir puisi itu, ia berkata:

“The God’s Haven’t granted you money,
But They’ve granted you strange whims. Look up:
it’s raining”

Tuhan tak memberikan kita uang. Tapi tentu saja, ia memberikan kita semacam petunjuk sebagai rahmat, agar kita tetap mampu menjalani hidup dan mewujudkan masa depan dengan penuh semangat. Sebagaimana hujan yang selalu saja mengguyur jiwa bumi yang selalu panas. Seperti kata Bolano, “Look up: it’s raining”. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.