Oleh: M. Fazwan Wasahua, pegiat Kebudayaan
Saya ingin kembali ke Walang Tepi Sungai (WTS) untuk menghabiskan beberapa bacaan. Jalan yang saya pilih adalah menyusuri pelataran kali. Terlihat beberapa ‘bocah’ sedang asyik mandi sambil bermain. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Seketika saja saya teringat masa lalu. Ketika masih di usia seperti mereka, yang saya habiskan dengan banyak bermain, mandi di kali, menjadi bolang di hutan-hutan yang tak jauh dari tempat tinggal, atau kesenangan-kesenangan lainnya. Kenangan yang sulit terlupakan.
Saat itu, sebagaimana anak-anak lain di usia belia, tak pernah terlintas sama sekali akan menjadi apa kelak ketika dewasa. Apalagi, harus risau memikirkan soal problematika kehidupan. Apakah harus kuliah ataukah bekerja. Apakah bekerja ataukah berwiraswasta, dan semacamnya. Rutinitas tiap hari ketika masa kecil adalah makan, tidur, sekolah, bermain, ditambah menonton film dragon ball atau serial kartun yang selalu tayang setiap akhir pekan pagi hingga siang. Tontonan yang selalu dinanti-nanti oleh kebanyakan anak-anak sebaya seperti saya waktu itu.
Tak ada obrolan politik, prediksi pemilu, krisis ekonomi, pemberitaan soal harga bawang dan cabai atau sembako yang naik, neraca eksport-import, kebijakan pemerintah yang terkesan amburadul, penyerobotan tanah ulayat untuk pembangunan korporasi tambang, kayu, atau semacamnya. Apalagi harus capek-capek konsolidasi ide dan gagasan untuk melakukan aksi perubahan sosial. Semua adalah pekerjaan yang, sama sekali tak pernah saya–kami–pikirkan. Masa kanak-kanak dilalui dengan penuh kesenangan, dan tanpa ada beban.








