Mereka yang Pulang Terakhir

oleh -248 views
Hermanto

Tak banyak bicara yang keluar darinya. Ia lebih banyak diam, seolah sudah terlalu sering bercerita dan tak pernah ada yang mendengar. Tapi dari tatap matanya, saya tahu ia tak butuh simpati. Ia hanya ingin didengar.

Ia bekerja setiap malam, kadang di pinggir jalan, kadang di tempat karaoke yang pintunya selalu tertutup rapat. Dalam semalam, ia bisa mendapat dua ratus ribu. Tapi itu jika sedang baik. Jika tidak, ia hanya membawa lelah dan uang sepuluh ribu untuk beli nasi bungkus.

“Anak saya butuh susu,” katanya pelan. “Dan tidak ada yang memberi saya pekerjaan untuk bisa beli itu siang hari.”

Negara tidak hadir di malam-malam seperti itu. Negara hanya muncul dalam bentuk plang larangan, stempel penyegelan, atau lampu rotator yang menyala sebentar lalu hilang bersama janji.

Baca Juga  Fraksi Gerindra DPRD Halsel Apresiasi Polda Malut Bongkar Penyelundupan 28 Ton BBM Subsidi

Beberapa minggu lalu, sebuah karaoke disegel di Pengasih. Beberapa botol miras disita. Beberapa perempuan dibawa. Beberapa berita ditulis. Tapi esok harinya, perempuan-perempuan itu tetap harus bangun. Anak-anak mereka tetap sekolah. Dapur tetap kosong. Dan negara tak datang membawa pekerjaan pengganti, atau setidaknya undangan untuk bicara.

Seolah semua selesai ketika pintu ditutup dan kamera dimatikan.

Saya bertanya-tanya: jika pekerjaan malam dianggap salah, mengapa tak ada siang yang lebih ramah? Jika moral menjadi dasar menertibkan, mengapa ekonomi yang rusak tak pernah diperbaiki lebih dulu?

No More Posts Available.

No more pages to load.