Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -532 views

“Apa bedanya, Kek?” tanya Samad yang baru berusia sepuluh tahun.

Kakek Mahmud menunjuk gugusan bintang di langit.

“Nelayan mencari ikan.”

Ia berhenti. Sorot matanya mengikuti cahaya bintang yang menggantung di utara.

“Pelaut mencari jalan.”

Tak seorang pun berbicara lagi.

Bahkan ombak yang memecah pantai terdengar seolah sedang ikut mendengarkan.

Di kampung itulah Samad mengenal Lela.

Rumah mereka dipisahkan sebidang kebun pala dan dua batang kenari tua yang akarnya saling bersilang di bawah tanah. Mereka tumbuh bersama sebagaimana pohon-pohon itu tumbuh: perlahan, tanpa pernah merasa sedang menjadi dewasa.

Masa kecil mereka diisi hal-hal sederhana.

Berlari mengejar ombak.

Memungut kerang selepas pasang.

Baca Juga  Gubernur Hendrik Lewerissa Resmikan Pastori I Jemaat GPM Galala-Hative Kecil

Memanjat pohon kelapa meski berkali-kali dimarahi orang tua.

Lela hampir selalu menang dalam setiap permainan.

Suatu sore, ketika mereka mencari tiram di sela batu karang, Samad bertanya mengapa ia selalu lebih dulu menemukan cangkang yang berisi mutiara kecil.

“Bukan karena aku lebih pandai,” jawab Lela.

“Lalu?”

“Aku mendengar laut.”

Samad tertawa.

“Laut tidak bicara.”

Lela menggeleng.

“Laut selalu bicara. Kita saja yang sering terlalu ribut untuk mendengarnya.”

Kalimat itu terdengar aneh bagi anak seusia mereka.

No More Posts Available.

No more pages to load.