Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -523 views

“Kakek pernah bilang, laut tidak pernah lupa kepada siapa pun yang pernah mencintainya.”

“Itu maksudnya?”

“Kalau suatu hari kau lupa jalan pulang, jangan bertanya kepada peta.”

“Lalu kepada siapa?”

Samad memandang laut yang berkilau diterpa cahaya bulan.

“Bertanyalah kepada laut.”

Lela tidak menjawab.

Ia hanya memandang garis yang baru saja dihapus ombak.

Entah mengapa, malam itu ia merasa garis itu bukan sedang hilang.

Melainkan sedang disimpan.

Keesokan paginya dermaga Galela penuh sesak.

Para ibu memeluk anak-anak mereka lebih lama daripada biasanya.

Beberapa lelaki berpura-pura sibuk mengangkat barang agar tak seorang pun melihat mata mereka yang memerah.

Kapal perlahan melepaskan tali tambat.

Baca Juga  Polri Siaga, Jampidsus Mundur

Mesinnya meraung pelan.

Lela berdiri di buritan.

Samad berada paling belakang di antara kerumunan orang yang melambaikan tangan.

Tak ada janji.

Tak ada kata cinta.

Hanya dua pasang mata yang bertahan saling memandang hingga wajah berubah menjadi bayangan.

Ketika kapal tinggal titik kecil di kaki langit, Samad baru mengerti satu hal.

Kadang-kadang, kehilangan tidak dimulai ketika seseorang pergi.

Ia dimulai ketika kita sadar bahwa penantian akan menjadi bagian dari hidup.

Dan sejak pagi itu, laut mulai meminjam Lela.

No More Posts Available.

No more pages to load.