Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -435 views

Mula-mula digantikan surat elektronik.

Lalu pesan-pesan singkat.

Kemudian percakapan yang semakin pendek.

“Sudah makan?”

“Laut bagaimana?”

“Kerja banyak.”

“Jaga kesehatan.”

Kalimat-kalimat itu semakin lama semakin jarang.

Kesibukan tumbuh seperti ilalang.

Pelan, tetapi memenuhi seluruh ruang.

Samad mengenal kehidupan baru Lela melalui layar telepon.

Sesekali muncul foto-fotonya.

Berkemeja putih.

Mengenakan tanda pengenal.

Berdiri di depan layar presentasi.

Menghadiri seminar.

Tersenyum bersama rekan-rekan kerja dengan latar gedung-gedung tinggi.

Orang-orang kampung bangga melihatnya.

“Hebat juga anak Galela.”

Samad hanya menekan tanda suka.

Lalu menyimpan telepon genggamnya kembali ke saku.

Ia tak pernah tahu komentar apa yang pantas ditulis.

Barangkali karena kehidupan mereka kini benar-benar berbeda.

Baca Juga  PLN Pastikan Keandalan Listrik untuk Dukung Operasional PT WLI di Maluku Tengah

Yang satu belajar membaca ombak.

Yang lain belajar membaca angka.

Sementara itu, Galela tetap bergerak mengikuti musim.

Musim cakalang datang.

Disusul angin timur.

Pohon-pohon pala berbuah.

Cengkih dijemur di halaman rumah.

Anak-anak yang dahulu bermain di pantai mulai ikut melaut bersama ayah mereka.

Bagi kampung, waktu tidak diukur oleh kalender.

Ia diukur oleh angin.

Ombak.

Dan musim.

Pada suatu pagi di penghujung musim timur, ayah Samad berangkat melaut seperti biasa.

No More Posts Available.

No more pages to load.