Efek eksposur berulang ini dapat menciptakan ilusi bahwa kandidat yang paling sering terlihat adalah yang paling popular atau paling didukung, meskipun kenyataannya bisa jadi berbeda.
Kesalehan yang menipu
Tak jarang para calon juga membungkus dirinya dengan karakter kesalehan. Acap menampilkan diri sebagai sosok yang religius dan tampil dalam kegiatan keagamaan, serta tidak lupa menyelipkan pesan-pesan moral dalam setiap kampanyenya.
Semua ini dilakukan untuk membangun citra sebagai pemimpin yang bermoral dan dapat dipercaya.
Namun, kesalehan yang ditampilkan ini sering kali hanya di permukaan. Banyak yang menggunakan agama sebagai alat politik tanpa benar-benar memiliki komitmen terhadap nilai-nilai yang dikampanyekan.
Lebih parah lagi, citra religius digunakan untuk menutupi pelbagai kasus korupsi atau juga penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan.
Dalam politik ala Machiavellianisme, penggunaan agama atau moralitas sebagai alat untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan adalah taktik lama yang lazim digunakan.
Niccolo Machiavelli menyarankan agar penguasa tampak saleh di depan umum, meskipun sebenarnya tidak. Jadi, jangan heran jika banyak “malaikat” yang tiba-tiba muncul menjelang pemilihan, padahal di belakang layar jauh panggang dari api.











